Transcription

PREDIKSI PERKEMBANGAN LAHAN TERBANGUN KOTAPEKALONGAN DENGAN MODEL CELLULAR AUTOMATAMENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFISSKRIPSIUntuk memperoleh gelar Sarjana Geografi (S.Geo)Oleh:Irfan Rizkyanto3211412034JURUSAN GEOGRAFIFAKULTAS ILMU SOSIALUNIVERSITAS NEGERI SEMARANG2019

PERSETUJUAN BIMBINGANSkripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke panitia sidang ujianskripsi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang pada:Hari:Tanggal :Mengetahui,Dosen Pembimbing IDosen Pembimbing IIDr. Tjaturahono Budi Sanjoto, M.SiNIP. 19580103 198601 1002Drs. Moch. Arifien, M.SiNIP. 19550826 198303 1 001Ketua Jurusan GeografiDr. Tjaturahono Budi Sanjoto, M.SiNIP. 19621019 198803 1 002ii

PENGESAHAN KELULUSANSkripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi FakultasIlmu Sosial, Universitas Negeri Semarang.Telah disetujui dan disahkan pada :Hari:Tanggal:Penguji IPenguji IIPenguji IIIDr. Juhadi, M.SiNIP. 19580103 198601 1002Drs. Moch. Arifien, M.SiNIP. 19550826 198303 1 001Dr. Tjaturahono Budi Sanjoto, M.SiNIP. 19621019 198803 1 002Mengetahui,Dekan Fakultas Ilmu SosialDr. Moh. Solehatul Mustofa, M.A.NIP. 196308021988031001iii

PERNYATAANSaya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benarhasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagianataupun seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsiini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.Semarang,Irfan RizkyantoNIM. 3211412020iv2019

MOTTO DAN PERSEMBAHANMOTTO Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan (Qs. Al-Insyiraf:6). Barang siapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar, maka akanmerasakan hinanya kebodohan sepanajng hidupnya ( Imam Asy Syafi’i). If you want to live a happy life, tie it to a goal, not to people or things (AlbertEinstein).PERSEMBAHANDengan rasa syukur kepada Allah SWT atassegala karunia-Nya skripsi ini kupersembahkanuntuk: Kedua orangtuaku Bapak Azali dan Ibu Dumilah,serta segenap keluarga tercinta yang selalumemberiku arahan, dukungan kasih sayang dandoa. Terima kasih untuk kamu, Rika Puji Lestari yangmemberikan kekuatan untuk melewati ini semua.v

SARIRizkyanto, Irfan. 2019. PREDIKSI PERKEMBANGAN LAHAN TERBANGUNKOTA PEKALONGAN DENGAN MODEL CELLULAR AUTOMATAMENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS. Skripsi. JurusanGeografi. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Semarang. Dr. Tjaturrahono,B.S., M.Si, Drs. Moch. Arifien, M.Si.Kata kunci: Cellular Aoutomata – Molusce, Prediksi, Lahan Terbangun, SIG.Kota Pekalongan sangat berpotensi mengalami perubahan lahan terbangun,khususnya perubahan lahan terbangun seperti permukiman, perdagangan, danperkantoran. Sehingga perlu adanya kajian terkait perubahan lahan di KotaPekalongan. Tujuan dalam penelitian ini adalah : (1) Mengetahui perubahan lahanterbangun di Kota Pekalongan tahun 2001, tahun 2011 dan tahun 2019. (2)Membuat prediksi perkembangan fisik wilayah Lahan terbangun Kota Pekalongantahun 2031.Data yang digunakan antara lain Peta RBI Kota Pekalongan edisi tahun2000, peta penggunaan lahan KLHK tahun 2010, Citra Quickbird dan CitraGoogle Earth, Peta Jaringan Jalan Kota Pekalongan, dan Peta Fasilitas umumKota Pekalongan. Alat yang digunakan adalah seperangkat komputer dengansoftware QGIS 2.18 dan ArcGIS 10.1. Penelitian ini terbagi menjadi beberapatahapan yaitu tahap persiapan, tahap pengolahan data, tahap pemodelan spasialdan validasi peta proyeksi, serta proyeksi penggunaan lahan terbangun.Luas lahan terbangun tahun 2001 adalah 2150,07 ha. Mengalamipeningkatan 115,65 ha, menjadi 2265,7 ha pada tahun 2011. Pada tahun 2019mengalami peingkatan sebesar 181,8 ha menjadi 2447,5 ha. Perubahan yangterjadi selama tahun 2001 sampai tahun 2019 adalah sebesar 297,4 ha.Dalam hal ini pemerintah perlu melakukan evaluasi dan pengendaliandalam praktek pembangunan lahan terbangun. Evaluasi dan pengendalian inidapat bekerjasama dengan masyarakat dan stakeholder terkait agar segalapembangunan lahan terbangun sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.vi

PRAKATAPuji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkannikmat, rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsiyang berjudul “Prediksi Perkembangan Lahan Terbangun Kota Pekalongandengan Menggunakan Model cellular Automata Menggunakan SistemInformasi Geografis”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratanmemperoleh gelar sarjana sains (S1) di Universitas Negeri Semarang.Penulis menyadari, penulisan skripsi ini dapat terselesaikan berkat bimbingan dandukungan dari beberapa pihak. Pada kesempatan ini penulis secara khususmengucapkan terima kasih kepada orangtua tercinta yang tidak pernah berhentimemberikan doa serta dukungan dan juga kepada bapak-bapak dosen pembimbingyaitu Dr. Tjaturahono Budi Sanjoto, M.Si, dan Drs. Moch. Arifien, M.Si yangtelah memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini. Selain itu,dengan rendah hati penulis juga mengucapkan terima kasih kepada:1. Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum., selaku Rektor Universitas NegeriSemarang.2. Dr. Moh Solehatul Mustofa, M.A, selaku Dekan Fakultas Ilmu SosialUniversitas Negeri Semarang.3. Dr. Tjaturahono Budi Sanjoto, M.Si., selaku Ketua jurusan Geografi FakultasIlmu Sosial Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan pelayanandan fasilitas yang memungkinkan penulis melakukan penelitian ini.4.Dr. Eva Banowati, M.Si., selaku Ketua Program Studi Geografi FakultasIlmu Sosial Universitas Negeri Semarang.vii

5. Dr. Juhadi, M.Si., selaku Dosen Penguji utama yang telah memberikanmasukan dalam skripsi ini.6. Seluruh Dosen Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial atas ilmu pengetahuandan pengalaman yang telah diberikan selama perkuliahan serta bantuan danmotivasi yang telah diberikan selama ini.7. Pimpinan serta Staff Kantor Dinas BAPPEDA Kota Pekalongan, yang telahmembantu menyediakan data penelitian.8. Keluarga Besar KSG-SAC yang telah memberikan ilmu serta inspirasi untukselalu bertumbuh dalam sebuah organisasi kekeluargaan.9. Keluarga geografi’12 yang selalu memberi dukungan dan doa untuk majubersama.10. Semua pihak yang telah membantu dan mendukung, yang tidak dapat penulissebutkan satu persatu.Somoga segala bantuan dan bimbingan yang telah diberikan oleh semuapihak kepada penulis mendapat balasan dari Allah SWT. Penulis menyadaribahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, masukan berupakritik dan saran sangat penulis harapkan demi peningkatan manfaat skripsi ini.Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.Semarang,Penyusunviii2019

DAFTAR ISIHalamanHALAMAN JUDUL.iPERSETUJUAN PEMBIMBING .iiPENGESAHAN KELULUSAN .iiiPERNYATAAN.ivMOTTO DAN PERSEMBAHAN .vSARI .viPRAKATA .viiDAFTAR ISI .ixDAFTAR TABEL .xiDAFTAR GAMBAR .xiiBAB I PENDAHULUAN .1A. Latar Belakang .1B. Rumusan Masalah .3C. Tujuan Penelitian.4D. Manfaat Penelitian.4E. Batasan Istilah.5BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR.7A. Deskripsi Teoris .71. Penggunaan Lahan .72. Klasifikasi Penggunaan Lahan .83. Lahan Terbangun.94. Perkembangan Wilayah.105. Sistem Informasi Geografi .136. Komponen Sistem Informasi Geografi .147. QuantumGIS.208. Cellular Automata .22B. Penelitian Terdahulu.23C. Kerangka Berpikir .28ix

BAB III METODE PENELITIAN .31A. Lokasi Penelitian .31B. Populasi dan Sampel.31C. Variabel dan Sampel.32D. Alat dan Bahan .32E. Teknik Pengumpulan Data.33F. Tahap Penelitian.34G. Teknik Analisis Data .37BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .41A. Deskripsi Umum.41B. Hasil Penelitian.501. Perubahan Lahan Terbangun Kota PekalonganTahun 2001 – 2019.502. Hubungan peubah bebas terhadap perkembangan penggunaan lahanterbangun di Kota Pekalongan Tahun 2001 – tahun 2019. .573. Prediksi Lahan Terbangun Kota Pekalongan Tahun 2031 .58C. Pembahasan .711. Perubahan Lahan Terbangun Tahun 2001,Tahun 2011, Tahun 2019 .732. Analisis Prediksi Lahan Terbangun Kota PekalonganTahun 2031 .753. Keterkaitan Prediksi Penggunaan Lahan Terbangundengan Pola Ruang Kota Pekalongan .75BAB V PENUTUP.781. Simpulan .782. Saran .79DAFTAR PUSTAKA .80x

DAFTAR TABELHalamanTabel 2.1 Penelitian Terdahulu .25Tabel 4.1 Luas Wilayah Kecamatan di Kota Pekalongan Tahun 2017 .44Tabel 4.2 Penggunaan Lahan di Kota Pekalongan Tahun 2017 .45Tabel 4.3 Luas Perubahan Lahan TerbangunKota Pekalongan Tahun 2001 - 2019 .51Tabel 4.4 Statistik penggunaan lahan periode tahun 2001 – 2019.60xi

DAFTAR GAMBARHalamanGambar 2.1 Diagram Alir Penelitian .30Gambar 4.1 Peta Administrasi Kota Pekalongan .42Gambar 4.2 Peta Jaringan Jalan .47Gambar 4.3 Peta Fasilitas Umum .49Gambar 4.4 Validasi Cellular Automata.52Gambar 4.5 Peta Lahan Terbangun Kota Pekalongan .55Gambar 4.6 Peta Lahan Terbangun.56Gambar 4.7 Matriks Transisi periode Tahun 2001 – 2019 .59Gambar 4.8 Peta Prediksi Lahan Terbangun Kota Semarang Tahun 2031.72xii

BAB IPENDAHULUANA. Latar BelakangKota Pekalongan merupakan salah satu kota di Jawa Tengah. Letaknyayang strategis yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa, serta dilalui olehjalur Pantai Utara (Pantura) membuat Kota Pekalongan menjadi salah satupusat perdagangan dan termasuk dalam PKW berdasarkan Rencana TataRuang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan fakta tersebut,Kota Pekalongan sangat berpotensi mengalami perubahan lahan terbangun,khususnya perubahan lahan terbangun seperti permukiman, perdagangan, danperkantoran. Sehingga perlu adanya kajian terkait perubahan lahan di KotaPekalongan. Kajian perubahan lahan terbangun bisa dilakukan denganintegrasi penginderaan jauh dan system informasi geografis, seperti yangdilakukan oleh Wijaya dan Susetyo (2017). Berdasarkan Wijaya dan Susetyo(2017), dalam kurun waktu 2003 – 2016 Kota Pekalongan yang paling banyakmengalami perubahan penggunaan lahan pertanian, rawa, dan permukiman.Jenis penggunaan lahan pertanian yang selalu selalu mengalami penguranganluasan yang signifikan yaitu sekitar 28%.Fungsi Kota Pekalongan yang startegis dinilai wajar jika perubahanlahan pertanian menjadi lahan terbangun cenderung meningkat. Hal inimengingat sektor pertanian di Kota Pekalongan bukanlah sektor andalandibandingkan ssektor perdagagan dan keuangan yang merupakan sektor1

2andalan di Kota Pekalongan Sabana, 2007). Tetapi perubahan lahan terbangunakan dinilai tak wajar dan menjadi masalah jika berlebihan. Berdasarkan BPS(2016), pertumbuhan penduduk di Kota Pekalongan terbesar adalah diKecamatan Pekalongan Selatan dan Kecamatan Pekalongan Utara, jikapertumbuhan penduduk berasosiasi dengan pertumbuhan lahan terbangunmaka pertumbuhan lahan terbangun itu akan menjadi masalah baru mengingatKecamatan Pekalongan Utara berada di wilayah pesisir yang rawan akanbencana banjir rob (Marfai dkk, 2013).Banjir rob pada lahan terbangun akan menyebabkan dampak bencanaberupa kerugian dan kerusakan. Dampak langsung dari banjir rob pada arealahan terbangun akan merusak fasilitas dan mengganggu aktivitas manusia,sedangkan dampak tak langsungnya akan memberikan dampak yang burukbagi kesehatan dan kebersihan lingkungan (Marfai dkk, 2013). Salah saturekomendasi dalam permasalahan perubahan penggunaan lahan di KotaPekalongan adalah manajemen penggunaan lahan seperti pengendalian akanpengembangan lahan terbangun dengan membatasi pertumbuhan lahan sepertipermukiman, industri, dan perdagangan terutama pada wilayah terdampakkenaikan muka air laut (Wijaya dan Susetyo, 2017).Kajian terkait perubahan lahan di Kota Pekalongan perlu dilakukan.Kajian perubahan lahan terbangun bisa dilakukan dengan integrasipenginderaan jauh dan system informasi geografis, seperti yang dilakukanoleh Wijaya dan Susetyo (2017). Dalam hasil penelitian yang dilakukan olehWijaya dan Susetyo (2017), didapatkan hasil bahwa lahan terbangun paling

3besar di Kota Pekalongan adalah permukiman dengan tren selalu mengalamipenambahan luas, dalam rentang waktu tahun 2003 sampai 2009lahanpermukiman bertambah sebesar 171,088 Ha, lahan pertanian berkurang /mengalami penurunan sebesar 455.36 Ha, dan lahan rawa bertambahluasannya sebesar 382,9 Ha. Besarnya perubahan penggunaa lahan tersebutsalah satunya disebabkan oleh adanya dampak genangan dari kenaikan mukaair laut di kota pekalongan. Untuk itu diperlukan manajemen pernggunaanlahan terbangun seperti pengendalian akan perkembangan lahan terbangunyakni dengan membatasi pertumbuhan lahan terbangun terutama pada wilayahterdampak kenaikan muka air laut. Keterbatasan kajian yang dilakukan olehWijaya dan Susetyo hanya sebatas mengetahui perubahan lahan terbangundahulu dan eksisting. Padahal kajian lahan terbangun sebaiknya jugamemprediksi kondisi di masa depan agar mempermudah saat evaluasi denganproduk RTRW seperti rencana pola ruang.Prediksi perubahan lahan terbangun bisa menggunakan metode CellularAutomata. Metode ini cukup representative dalam memprediksi penggunaanlahan terbangun seperti Wijaya dan Susilo (2013) untuk Kota Salatiga,Nurhidayati, dkk (2017) untukKotaPontianak dan Wijaya dan Umam(2015) untuk Kota Yogyakarta dengan akurasi yang cukup baik. Sehingga dariuraian tersebut di atas, penelitian ini akan mencoba memprediksi pertumbuhanlahan terbangun di Kota Pekalongan menggunakan Cellular Automata.

4B. Rumusan Masalah1) Bagaimana Perubahan lahan terbangun di Kota Pekalongan tahun 2001sampai tahun 2019?2) Bagaimana prediksi perkembangan fisik wilayah lahan terbangun KotaPekalongan tahun 2031?C. Tujuan Penelitian1) Mengetahui Perubahan lahan terbangun di Kota Pekalongan tahun 2001,tahun 2011, dan tahun 2019.2) Membuat prediksi perkembangan fisik wilayah Lahan terbangun KotaPekalongan tahun 2031.D. Manfaat penelitian1) Manfaat PraktisPenelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukandan informasi bagi pemerintah khususnya pemerintah Kota Pekalongandalam mengkaji dan mengambil keputusan, dalam kebijakan perencanaanpembangunan Kota Pekalongan.2) Manfaat TeoritisSecara teori penelitian ini diharapkan dapat menambah ataumemberikan wawasan keilmuan dan pengetahuan serta sebagai sumberinformasi atau referensi bagi penelitian-penelitian yang relevan dengantema seperti ini.

5E. Batasan IstilahUntuk mempermudah pembaca dalam memahami isi dan gambarandari penelitian ini, maka perlu adanya penegasan istilah atau batasan yangterdapat dalam penelitian:1. Cellular AutomataCelluler Automata CA dalam SIG digunakan untuk mengetahuikedinamisan suatu objek/fenomena, dimana kedinamisan banyak diartikansebagai suatu wujud perubahan (Paramitha, 2011; Liu, 2009; Deliar, 2010dalam Wijaya, 2012). Dalam Baja S (2012), Cellular Automata adalahmodel sederhana dari proses terdistribusi spasial (spatial distributed process)dalam masing-masing diatur sedemikian rupa sehingga hanya diperbolehkanberada di salah satu dari beberapa keadaan.2. PrediksiPrediksi adalah suatu proses memperkirakan secara sistematis tentangsesuatu yang paling mungkin terjadi di masa depan berdasarkan infomasimasa lalu dan sekarang yang dimiliki.Prediksi dalam penelitian ini memprediksi penutup lahaan terbangunpada tahun 2031.3. Lahan terbangunLahan terbangun dapat diartikan sebagai lahan yang telah mengalamisubtitusi penutup lahan alami atau semi alami dengan penutup lahan buatanyang bersifat artifisial dan sering kedap air (BSN, 2010). Klasifikasi

6penggunaan lahan terbangun berupa, permukiman, industry dan jasa, sertasarana transportasi dan komunikasi (Anderson, 1976 dalam Wijaya, 2013).4. Sistem Informasi GeografisMenurut Aronof (Prahasta, 2009) Sistem Informasi Geografis adalahsistem yang berbasiskan komputer yang digunakan untuk menyimpan danmemanipulasi informasi – informasi geografis. SIG dirancang untukmengumpulkan, menyimpan, menganalisis obyek – obyek dan fenomenadimana lokasi geografis merupakan karakteristik yang penting atau kritisuntuk di analisis.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIRA. Deskripsi Teoritis1. Penggunaan LahanPenggunaan lahan merupakan bentang permukaan bumi yang dapatbermanfaat bagi manusia baik yang sudah ataupun belum dikelola(Ritohardoyo,2013). Penggunaan lahan adalah segala macam campur tanganmanusia, baik secara menetap ataupun berpindah – pindah terhadap suatukelompok sumber daya alam dan sumber daya buatan, secara keseluruhandisebut lahan, dengan tujuan untuk mencukpi kebutuhan baik materialmaupun spiritual, ataupun kebutuhan kedua – duanya (Malingreau, 1978dalam Ritohardoyo,2013).Penggunaan lahan sering disalah artikan menjadi penutup lahanataupun sebaliknya, sedangkan dilapangan kedua kenampakan ini memilikibahasan yang berbeda. Penutup lahan merupakan istilah yang digunakanuntuk menyebut suatu kenampakan lahan secara fisik, baik kenampakanalam maupun kenampakan buatan manusia. Misalnya penutup lahan yangmenampakkan persawahan disebut dengan tutupan vegetasi pertanian.Penggunaan lahan merupakan suatu bentuk pemanfaatan atau fungsidari perwujudan suatu bentuk lahan. Istilah penggunaan lahan didasari padafungsikenampakanpenggunaan lahanbagikehidupan, baikitukenampakan alami atau buatan manusia. Suatu kenampakan vegetasi rapatdalam istilah penggunaan lahan dapat dibedakan menjadi hutan maupun7

8perkebunan. Penyebutan tersebut tergantung pada perlakuan manusiaterhadap penggunaan lahan. Setiap wilayah memiliki karakteristikwilayahnya tersendiri dan dapat mempengaruhi berbagai mata pencaharianyang menghasilkan beragam bentuk penggunaan lahan.2. Klasifikasi Penggunaan LahanMalingreau (1978) menjelaskan bahwa klasifikasi adalah penetapanobyek – obyek, kenampakan atau satuan – satuan menjadi kumpulan –kumpulan, didalam suatu sistem pengelompokan yang dibeda – bedakanberdasarkan pada sifat – sifat khusus, atau berdasar pada pada isi naanlahanmendasarkan pada pengelompokan pola – pola fenomena permukaan bumidan memperhatikan karakteristik di lapangan, sehingga memberikangambaran lebih jelas hubungan antara faktor fisik wilayah dengan aktivitasmanusia dengan lahan terbangun.Klasifikasi Malingreau (1978) menekankan pada pemahaman sistemklasifikasi dan mengacu pada suatu kerangka kerja klasifikasi menurutDent, dengan cara membagi lahan kedalam tingkatan – tingkatan tertentumenjadi kelompok – kelompok sebagai berikut :a. Penutup/ penggunaan lahan Order (tipe penutup lahan)b. Penutup/ penggunaan lahan Classesc. Penutup/ penggunaan lahan Sub-Classesd. Penutup/ penggunaan lahan Management Units (tipe pemanfaatanlahan)

9Klasifikasi tersebut oleh Malingreau dimodifikasi menjadi 6 kategoriberikut:a. Penutup/ penggunaan lahan Order seperti area bervegetasib. Penutup/ penggunaan lahan Sub-Order seperti area pertanianc. Penutup/ penggunaan lahan Family seperti area pertanian permanend. Penutup/ penggunaan lahan Class seperti sawah tadah hujane. Penutup/ penggunaan lahan Sub-Class seperti sawah irigasif. Penutup/ penggunaan lahan Management Unit seperti penanaman padiberkelanjutanPengkategorian pada tingkat yang lebih tinggi dimaksudkan untuktipe penutupan lahan dan yang lebih rendah untuk tipe lahan terbangun.3. Lahan TerbangunLahan merupakan suatu lingkungan fisik yang menyangkut iklim,tanah, hidrologi dan tumbuhan yang sampai pada batas tertentu yang akanmempengaruhi kemampuan penggunaan lahan (Purwodido, 1983 dalamAstuti, 2012). Lahan terbangun merupakan suatu lahan yang sudahmengalami campur tangan manusia yang merubah penutup lahan alami atausemi alami menjadi penutup lahan buatan yang bersifat artifisial dan seringkedap air (BSN, 2010). Menurut Yuliastuti .,dkk (2012), Lahan terbangun(built up area) adalah suatu lahan yang telah mengalami prosespembangunan atau perkerasan yang terjadi di atas suatu lahan alami.Sedangkan wijaya (2013), Menyatakan Lahan terbangun adalah segala

10sesuatu bentuk fisik yang menutupi muka bumi yang dibatasi kenampakanfisik terbangun.Klasifikasi lahan terbangun merupakan kategori penutup lahan yangmasih general yang berada pada level I. Sehingga terdapat pembagian lebihrinci dari lahan terbangun yang terdapat pada level II yang dibagi menjadibeberapa kelas yaitu Permukiman, Industri, Jasa, Campuran jasa danindustry, Sarana transportasi dan komunikasi (Anderson, 1976 dalamWijaya, 2013).4. Perkembangan WilayahYunus (2000) menyebutkan perkembangan wilayah merupakanproses perkembangan spasial secara fisikal tampak ada 2 bentukperkembangan yaitu proses sentrifugal dan proses perkembangan secarasentripetal.Dalam perkembangan sebuah kota akan muncul dua konsekuensispasial yang diakibatkan oleh meningkatnya tuntutan akan ruang yaituperkembangan yuridis administratif kota dan perkembangan fisikalmorfologis kota. Perkembangan yuridis administratif mengacu dangkanperkembangan fisikal morfologis kota mengacu pada perkembangankenampakan fisik kota yang tidak dibatasi oleh administrasi dalamperkembangannya.Ditinjau dari prosesnya, perkembangan spasial secara fisik ada 2macam bentuk perkembangan, yaitu (a) proses perkembangan spasial

11horizontal, dan (b) proses perkembangan spasial secara erupakanprosesbertambahnya ruang kekotaan yang sudah terbangun dan mengambiltempat di pinggiran kota. Proses perkembangan spasial horizontalsentripetal adalah suatu proses penambahan bangunan-bangunan kekotaanyang terjadi dibagian dalam kota (the inner parts of the city).Perkembangan spasial horizontal sentrifugal merupakan suatu prosesbertambahnya ruang kekotaan yang sudah terbangun dan mengambiltempat di pinggiran kota. Proses inilah yang memicu dan memacubertambah luasnya areal perkotaan. Makin cepat proses ini berjalan, makasemakin cepat pula perkembangan kota secara fisikal.Menurut Lee (1976), terdapat 6 variabel yang mempunyai pengaruhkuat dalam perkembangan horizontal sentrifugal ini yaitu :a. Aksesbilitas (Accessibility)Aksesbilitas dalam hal ini adalah aksesbilitas fisik wilayahyang tidak lain adalah tingkat kemudahan suatu tempat dijangkaudari ebebrapa lokasi lain. Makin mudah suatu tempat dijangkaumaka akan semakin menarik terhadap penduduk maupun fungsikekotaan untuk memanfaatkannya sebagai lokasi tempat tinggalatau kedudukan kegiatannya.b. Variabel Pelayanan Umum (Public Services)Bagian wilayah pinggiran kota yang terdapat pusat-pusatpelayanan umum seperti kampus pendidikan, perkantoran,

12industry, perdagangan atau sejenisnya akan mempunyai daya tarik(magnetic forces) yang lebih besar dibandingkan daerah yang tidakmempunyai hal tersebut.c. Karakteristik Lahan (Land terhadapberkembangan atau tidaknya suatu tempat. Biasanya dikaitkandengan keadaan topografi daerah yang bersangkutan.d. Karakteristik Pemilik Lahan (Land Owner Characteristic)Hal ini sangat berkaitan dengan persepsi penduduk terhadapperkembangan baru maupun kemapanan ekonominya. Persepsi inibiasanya sangat dipengaruhi oleh kegiatan spekulasi lahan (hargapasar tanah).e. Keberadaan Peraturan-peraturan Pemerintah (Regulatory Measures)Adanya peraturan tata ruang akan sangat menentukanberkembang atau tidaknya suatu kawasan. Peraturan yang adamemberikan wewenang kepada pemerintah atas nama hokum dankepentingan umum untuk membatasi kepentingan individual pihakpihak yang tidak bertanggung jawab.f. Prakarsa Pengembang (Developers Initiatives)Di Indonesia, peranan pengembang terhadap cepat atautidaknya perkembangan fisik kekotaan sangat signifikan. Suatudaerah dimana terdapat kompleks perumahan baru akan lebih cepatberkembang dibandingkan dengan daerah yang tidak dibangun.

13Maraknya perkembangan permukiman secara individual akanselalu mengikuti fasilitas permukiman yang dibangun olehpengembang.5. Sistem Informasi GeografisSistem Informasi Geografis menurut Aronof (Prahasta, 2009) adalahsistem yang berbasiskan komputer yang digunakan untuk menyimpan danmemanipulasi informasi – informasi geografis. SIG dirancang untukmengumpulkan, menyimpan, menganalisis obyek – obyek dan fenomenadimana lokasi geografis merupakan karakteristik yang penting atau kritisuntuk di analisis.Dengan demikian, SIG merupakan sistem komputer yang memilikiempat kemampuan berikut dalam menangani data bereferensi geografis;1) persiapkan data spasial dan atribut dari berbagai sumber.Subsistem ini pula yang bertanggungjawab dalam mengkonversi ataumentransformasikan format-format data - data aslinya ke dalamformat yang dapat digunakan oleh sistem informasi geografis.2) Manajemen data (penyimpanan dan pemanggilan data)Subsistem ini mengorganisasikan baik data spasial maupunatribut ke dalam sebuah basisdata sedemikian rupa sehingga mudahdipanggil, di-update, dan di-edit.3) Analisis dan manipulasi data

14Subsistem ini menentukan informasi-informasi yang dapatdihasilkan oleh sistem informasi geografis. Selain itu, subsistem inijuga melakukan manipulasi dan pemodelan data untuk menghasilkaninformasi yang diharapkan.4) Keluaran.Subsistem ini menampilkan atau menghasilkan keluaranseluruh atau sebagian basisdata baik dalam bentuk softcopy maupunbentuk hardcopy seperti tabel, grafik, peta dan lain lain.Salah satu kemampuan SIG adalah kemampuan analisis yang dapatdilakukannya. Secara umum terdapat dua jenis kemampuan analisis SIG,yaitu analisis atribut (basis data atribut) dan analisis spasial. Analisis atributterdiri dari operasi dasar sistem pengelolaan basis data dan perluasannya.Sedangkan, analisis spasial terdiri dari analisis dengan berbagai pemodelandengan berbagai fungsi masing – masing.6. Komponen Sistem Informasi GeografiMenurut Riyanto,dkk, (2009), komponen sistem (subsistem) padaSistem Informasi Geografis antara lain.a. apkan data spasial dan atau atribut dari berbagai sumberdata sesuai format data yang sesuai.b. Manipulasi Merupakan proses editing terhadap data yang telahmasuk, hal ini dilakukan untuk menyesuaikan tipe dan jenis dataagar sesuai dengan sistem yang

Kata kunci: Cellular Aoutomata – Molusce, Prediksi, Lahan Terbangun, SIG. Kota Pekalongan sangat berpotensi mengalami perubahan lahan terbangun, khususnya perubahan lahan terbangun seperti permukiman, perdagangan, dan perkantoran. Sehingga perlu adanya kajian terkait perubahan lahan di Kota . Perkembangan Wilayah. 10 5. Sistem Informasi .