Transcription

BAB IIKAJIAN PUSTAKAA. Kajian Teori1. Hakikat NovelNovel berasal dari bahasa Italia novella (dalam bahasa Jerman : novella).Secara harfiah novella berarti „sebuah barang baru yang kecil‟. Abraham (dalamBurhan, 2013:12) menyatakan yaitu novel dalam istilah Indonesia “novelet”(Inggris novelette) yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnyacukupan, tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek. Karangan prosayang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orangdi sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. BurhanNurgiyantoro (2013:5) menyatakan bahwa novel sebagai sebuah karya fiksimenawarkan sebuah dunia, dunia yang berisi model kehidupan yang di idealkan,dunia imajinatif yang dibangun melalui berbagai unsur intrinsiknya sepertiperistiwa, plot,tokoh, latar, sudut pandang dan lain-lain yang kesemuanyabersifat imajinatif.Kesemuanya itu walaupun bersifat noneksistensial, karena dengansengaja dikreasikan oleh pengarang dibuat mirip, diimitasikan atau dianalogikandengan kehidupan dunia nyata lengkap dengan peristiwa-peristiwa dan lataraktualnya sehingga tampak seperti terjadi dan terlihat berjalan dengan sistemkoheresi nya sendiri. Novel adalah suatu cerita prosa fiksi yang mempunyaipanjang tertentu, di dalamnya terdapat unsur-unsur intrinsik dan semuanyabersifat imajinasi. Novel mengangkat sebuah cerita kehidupan dan permasalahanyang diidealkan karena menampilkan kehidupan manusia secara mendalam dankejadianya pun luar biasa, serta disajikan dalam bentuk tulisan yang lebih rincidan lebih detail.9

102. Karya Sastra dan Bahasa SastraKarya sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman,pemikiran, ide, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran kehidupan yang dapatdibangkitkan pesona nya dengan alat bahasa dan dilukiskan dalam bentuktulisan. Ali Imron (2012:2) berpendapat bahwa “karya sastra merupakan karyaimjainatif bermediumkan bahasa yang fungsi estetiknya dominan”. Bahasamerupakan media ekspresi sastra sastra, bahasa sastra digunakan olehsastrawan guna mencapai efek ekstetik. Guna memperoleh efektivitaspengungkapan, bahasa dalam sastra dieksploitasi secermat mungkin sehinggatampil dengan bentuk berbeda dengan bahasa nonsastra.Karya seni yang memanfaatkan bahasa sebagai mediumnya, makabahasa sastra memiliki peran yang utama. Bahasa sastra menjadi media utamauntuk mengekspresikan berbagai gagasan sastrawan. Bahasa sastra sekaligusmenjadi alat bagi sastrawan sebagai penyalur untuk menyampaikan gagasangagasan kepada masyarakat sebagai pembaca karya sastra. Bahasa sastratidak hanya menyatakan dan mengungkapkan apa yang dikatakan kdanakhirnyamengubahnya. Aminudin (dalam Ali Imron, 2012:33) menegaskan bahwabahasa dalam karya sastra semestinya mengandung kebaruan dan kekhasankarena hal itu dapat mencerminkan keaslian karya, keunikan, dan individualism.Penggunaan bahasa yang baru dan khas mencakup antara lain: (1) kesatuanbentuk, (2) koherensi, (3) keselarasan bentuk dan isi, (4) kebaruan dankekhasan, (5) kejernihan dan kedalaman tujuan yang berkaitan denganintensitas bahasa.

11Bahasa sastra dapat disimpulkan sebagai objek utama pengarangmengekspresikan hasil karyanya. Pengarang mampu menyampaikan gagasangagasan kepada pembaca melewati karya sastra. Penggunaan bahasa dalamkarya sastra merupakann bagian yang tak terpisahkan dari dunia makna dancitraan serta suasana yang akan dituangkan oleh pengarang.3. Hakikat Stilistikaa. Pengertian StilistikaSecara harfiah, stilistika berasal dari bahasa Inggris “stylistics” yangberarti studi mengenai „gaya bahasa’ atau „studi bergaya’. Adapun secara istilah,stilistika (stylistics) yaitu ilmu yang meneliti penggunaan bahasa dan gayabahasa di dalam karya sastra, Abraham (dalam Ali Imron 2012:10). Stilistikaadalah proses menganalisis karya sastra dengan mengkaji unsur-unsur bahasasebagai medium karya sastra yang digunakan sehingga terlihat bagaimanaperlakuan sastrawan terhadap bahasa dalam rangka menuangkan gagasan.Proses yang berhubungan dengan analisis bahasa karya sastra digunakan untukmengungkapkan aspek kebahasaan dalam karya sastra tersebut seperti diksi,kalimat, penggunaan bahasa kias atau bahasa figuratif, bentuk-bentuk wacana,dan sarana retorika yang lain. Soediro Satoto (2012:35) menyatakan “stilistikaadalah cara yang khas dipergunakan oleh seseorang untuk mengutarakan ataumengungkapkan diri gaya pribadi”. Cara pengungkapan tersebut bisa meliputisetiap aspek kebahasaan.Burhan Nugiyantoro (2017:74) menyatakan bahwa “stilistika berhubunganerat dengan stile”. Bidang kajian stilistika adalah stile, bahasa yang dipakaidalam konteks tertentu, dalam ragam bahasa tertentu. Nyoman Kutha Ratna(2013:3) menjelaskan bahwa stilistika adalah ilmu tentang gaya, sedangkan still

12(style) adalah cara-cara yang khas, bagaimana segala sesuatu diungkapkandengan cara tertentu, sehingga tujuan yang dimaksud dapat dicapai secaramaksimal.Definisi stilistika menurut Nyoman Kutha Ratna (2013:10) stilistika adalahsebagai berikut : (1) ilmu tentang gaya bahasa, (2) ilmu interdisipliner antarlinguistik dengan sastra, (3) ilmu tentang penerapan kaidah-kaidah linguistikdalam penelitian gaya bahasa, (4) ilmu yang menyelidiki pemakaian bahasadalam karya sastra, (5) ilmu yang menyelidiki pemakaian bahasa dalam karyasastra, dengan mempertimbangkan aspek-aspek keindahan serta latar belakangsosial.Ratna (dalam Ali Imron 2012:12) menyatakan, stilistika merupakan ,denganmempertimbangkan aspek-aspek keindahan. Simposon (dalam Ali Imron2012:12) berpendapat bahwa stilistika adalah “sebuah metode interpretasitekstual karya sastra yang dipandang memiliki keungulan dalam memperdayaanbahasa”. Stilistika berguna untuk memaparkan kesan pemakaian susunan katadalam kalimat,disamping ketepatan pemilihan kata, memegang peranan pentingdalam ciptaan suasana. Gaya bahasa dalam karya sastra berhubungan dengantujuan yang ingin dicapai oleh pengarang. Stilistika dapat diartikan kajian yangmempelajari penggunaan bahasa (gaya bahasa), terutama sastra untukmenerangkan aspek-aspek keindahan (style) dalam karya sastra.b. Tujuan StilistikaAnalisis stilistika biasanya dimaksudkan untuk menerangkan sesuatuyang pada umumnya dalam dunia kesastraan untuk menerangkan hubunganbahasa dengan fungsi artistik dan maknanya. Penjelasan tentang fungsi artistik,

13fungsi keindahan, bentuk-bentuk kebahasaan tertentu dalam sebuat teks. Kajianstilistika dimaksudkan untuk menjelaskan fungsi keindahan penggunaan bentukkebahasaan dalam teks fiksi. Ali Imron (2012:16) menyatakan “stilistika dalamkedudukannya sebagai teori dan pendekatan penelitian karya sastra yangberorientasikan linguistik”. Stilistika mempunyai tujuan sebagai berikut. Pertama,stilistika untuk menghubungan perhatian kritikus sastra dalam apresiasi estetikdengan perhartian linguis dalam deskripsi linguistik. Kedua, stilistika untukmenelaah bagaimana unsur bahasa ditempatkan dalam menghasilkan pesanpesan aktual lewat pola-pola yang digunakan dalam sebuah karya sastra.Ketiga, stilistika untuk menghubungkan intuisi-intuisi tentang maknamakna dengan pola-pola bahasa dalam teks (sastra) yang dianalisis. Keempat,stilistika untuk menuntun pemahaman yang lebih baik terhadap makna yangdikemukakan pengarang dalam karya nya dan memberikan apresiasi yang lebihterhadap kemampuan bersastra pengarang. Kelima, stilistika untuk menemukanprinsip-prinsip artistik yang mendasari pemilihan bahasa seorang pengarang.Sebab, setiap penulis memiliki kualitas individual masing-masing. Keenam, kajianstilistika akan menemukan kiat pengarang dalam memanfaatkan kemungkinanyang tersedia dalam bahasa sebagai sarana pengungkapan makna dan efekestetik bahasa.Tujuan stilistika berada pada dua sisi yaitu pertama mencari fungsi estetikkarya sastra dan kedua mencari bukti-bukti linguistik. Proses mencari fungsiestetik, proses kajian stilistika berkisar pada apresiasi sastra. Pengarangmenggunakan tanda-tanda linguistik untuk memperoleh efek khusus. Efekkhusus disini ketika pengarang mengunakan bentuk-bentuk bahasa dan memilihbentuk komponen bahasa tertentu. Pemilihan ini memiliki tujuan untuk

14menjelaskan efek khusus dan efek estetis yang akan dicapai lewat pemilihanbentuk-bentuk kebahasaan di dalam sebuah karya sastra.c. Aspek StilistikaSoediro Satoto (2013:37 ) menyatakan bahwa “stilistika sebagai cabangilmu sastra yang meneliti stail atau gaya”. Dibedakan ke dalam dua jenis yaitustilistika deskriptif dan stilistika genetis. Stilistika deskriptif meneliti nilai-nilaiekspresif khusus yang terkandung dalam suatu bahasa (language) yaitu secaramorfologi, sintaksis, dan semantik. Stilistika genetis memandang gaya (style)sebagai suatu ungkapan yang khas atau pribadi. Analisis terinci (motif, pilihankata) terhadap sebuah karya sastra. Ali Imron (2012:47) menyatakan aspekstilistika berupa bentuk-bentuk dan satuan kebahasaan yang ditelaah dalamkajian stilistika karya sastra meliputi: gaya bunyi (fonem), gaya kata (diksi), gayakalimat, gaya wacana, bahasa figuratif, dan citraan.Penelitian ini aspek stilistika yang dikaji dibatasi pada aspek gaya kata(diksi) khusunya kata konotatif dan kata konkret, bahasa figuratif khusunyamajas simile, majas personifikasi dan majas hiperbola, citraan, gaya kalimatkhususnya pararelisme, gaya wacana khususnya klimaks dan antiklimaks, dannilai pendidikan karakter khususnya nilai religious dan peduli sosial.1) Gaya Kata (diksi)Diksi dapat diartikan sebagai pilihan kata-kata yang dipilih olehpengarang dalam karyanya guna menciptakan efek makna tertentu. Katamerupakan unsur bahasa yang paling esensial dalam karya sastra. Seorangssatrawan saat memilih kata harus berusaha agar kata-kata yang digunakannyamengandung kepadatan (Ali Imron, 2012:49). Kata yang dikombinasikan dengankata-kata lain dalam berbagai variasi mampu menggambarkan bermacam-

15macam ide, angan, dan perasaan. Gorys Keraf (2010:24) mengatakan bahwadiksi mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikansuatu gagasan, bagaimana pembentuk pengelompokan kata-kata yang tepatatau menggunakan ungkapan-ungkapan dan gaya mana yang paling baikdigunakan dalam suatu anguntukmengungkapkan gagasannya. Kata mempunyai fungsi sebagai simbol yangmewakili sesuatu. Meminjam istilah Ricour (dalam Ali Imron, 2012:52)menyatakan bahwa “setiap kata adalah simbol”. Kata-kata penuh dengan maknadan intensi yang tersembunyi. Pemanfaatan diksi dalam karya sastra merupakansimbol yang mewakili gagasan tertentu, terutama dalam mendukung gagasanyang ingin diekspresikan pengarang dalam karya sastranya.Sastrawan ingin mengekpresikan pengalaman jiwanya secara padat danintens. Sastrawan memilih kata-kata yang menjelmakan pengalaman jiwanyasetepat-tepanya, untuk mendapatkan kepadatan dan intensitasnya serta agarselaras dengan sarana komunikasi puitis yang lain, maka sastrawan memilihkata-kata dengan secermat-cermatnya, Altenberd dan Lewis (dalam Ali Imron,2012:52). Ali Imron (2012:53) menyatakan bahwa karya sastra terdapat banyakgaya kata (diksi) antara lain: kata konotatif, kata konkret, kata serapan, katasapaan khas, kata vulgar, dan kata dengan objek realitas alam.a) Kata KonotatifMenurut Leech (dalam Ali Imron, 2012:53) arti konotatifmerupakan nilai komunikatif suatu ungkapan menurut apa yang diacu,melebihi di atas isinya yang murni konseptual. Kata konotatif adalahkata yang memiliki makna tambahan yang terlepas dari makna

16harfiahnya yang didasarkan pada perasaan atau pikiran yang timbulpada pengarang atau pembaca. Ali Imron (2012:53) menyatakan bahwa“kata konotatif dalam karya sastra sangat dominan”.b) Kata KonkretKata konkret merujuk pada benda-benda fisikal yang tampak dialam kehidupan. Menurut Kridalaksana (dalam Ali Imron, 2012:53) “katakonkret adalah kata yang mempunyai ciri-ciri fisik yang tampak”. Katakonkret mengandung makna yang merujuk kepada pengertian langsungatau memiliki makna harfiah, sesuai dengan konvensi tertentu.Pengarang mampu mengkonkretkan kata-kata, maka pembaca seolaholah melihat,mendengar atau merasa apa yang dilukiskan olehpengarang. Citraan pembaca merupakan akibat dari pencitraan katakata yang diciptakan pengarang, maka kata-kata konkret ini merupakansyarat atau sebab terjadinya pengimajinasian tersebut.c) Kata SerapanKata serapan adalah kata yang diambil atau dipungut dari bahasalain, baik bahasa asing maupun bahasa daerah baik mengalamiadaptasi struktur,tulisandanlafal maupuntidakdansudahdikategorikan sebagai kosakata bahasa Indonesia. Artinya dari segicara penyerapan, ada kata serapan yang mengalami adaptasi(penyesuaian) dan ada yang mengalami adopsi (dipungut tanpaperubahan).d) Kata Sapaan KhasNama diri yang dipakai sebagai sapaan adalah kata yang dipakaiuntuk menyebut diri seseorang, Riyadi ( dalam Ali Imron, 2012:53).

17Kata lain, nama diartikan sebagai kata yang berfungsi sebagai sebutanuntuk menunjukkan orang atau sebagai penanda identitas seseorang.Ditinjau dari sudut linguistik, nama diri atau sapaan merupakan satuanlingual yang dapat disebut sebagai tanda. Tanda merupakan kombinasikonsep (petanda) dan bentuk (yang tertulis atau diucapkan) ataupenanda Saussure (dalam Ali Imron, 2012:54). Kata serapan ada yangbersal dari bahasa daerah misalnya bahasa Jawa, bahasa Sumatra,bahasa Sunda, dan dari bahasa asing misalnya bahasa Spanyol,bahasa Inggris, dan bahasa Perancis. Wasiati seperti dikutip oleh Ryle(dalam Ali Imron, 2012:55) menyatakan bahwa “nama memiliki referentetapi tidak memiliki makna”. Arti simbolik nama dan kata lain dibangunoleh budaya tertentu.e) Kata VulgarKata-kata yang carut marut dan kasar ataupun kampungandisebut dengan kata vulgar. Kata vulgar merupakan kata-kata yangtidak intelek, kurang beradab, dipandang tidak etis, dan melanggarsopan santun atau etika sosial yang berlaku dalam masyarakat intelekatau terpelajar.f) Kata dengan objek realitas alamKata yang memanfaatkan realitas alam sebagai bentukan katatertentu yang memiliki arti.2) tinguntukmenimbulkan pembayangan imajinatif, membentuk gambaran mental, dan dapatmembangkitkan pengalaman tertentu kepada pembaca. Citraan kata berasal

18dari bahasa Latin imago dengan bentuk verbanya imatari. Citraan merupakankumpulan citra yang digunakan untuk melukiskan objek dan kualitas tanggapanindera yang digunakan dalam karya sastra, baik dengan deskripsi secaraharfiah, maupun secara kias, Abrams (dalam Ali Imron, 2012:76). Abrham,menurut Suminto, A. Sayuti (2000:174) menyatakan bahwa citraan dapatdiartikan sebagai kata atau serangkaian kata yang dapat membentuk gambaranmental atau dapat membangkitkan pengalaman tertentu.Citraan kata dapat dibagi menjadi tujuh jenis yakni :a) Citraan PenglihatanCitraan yang timbul oleh penglihatan disebut citraan an,kemarahan,kegembiraan, dan fisik (kecantikan, keseksian, keluwesan). Karyasastra selain pelukisan karakter tokoh, citraan penglihatan ini jugasangat produktif dipakai oleh pengarang untuk melukiskan keadaan,tempat, pemandangan, atau bangunan.b) Citraan PendengaranCitraan pendengaran adalah citraan yang ditimbulkan olehpendengaran. Berbagai peristiwa dan pengalaman hidup yang berkaitandengan pendengaran tersimpan dalam memori pembaca akan mudahbangkit dengan adanya citraan audio. Pelukisan keadaan dengancitraan pendengaran akan mudah merangsang imaji pembaca yangkaya dalam pencapaian efek estetik.c) Citraan PenciumanCitraan penciuman jarang digunakan dibanding citraan gerak,visual, atau pendengaran. Citraan penciuman memiliki fungsi penting

19dalam menghidupkan imajinasi pembaca khususnya indra penciuman.d) Citraan PencecapanCitraan pencecapan adalah pelukisan imajinasi yang ditimbulkanoleh pengalaman indra pencecapan. Citraan ini dalam karya sastradipergunakan untuk menghidupkan imaji pembaca dalam hal-hal yangberkaitan dengan rasa di lidah.e) Citraan GerakCitraan gerak melukiskan sesuatu yang sesungguhnya tidakbergerak tetapi dilukiskan sebagai benda yang dapat bergerak ataupungambaran gerak pada umumnya. Citraan gerak dapat membuatsesuatu menjadi terasa hidup dan terasa menjadi dinamis.f) Citraan intelektualCitraan yang dihasilkan melalui asosiasi-asosiasi intelektualmampumenghidupkan imaji pembaca, pengarang memanfaatkan asosiasilogika dan pemikiran.g) Citraan PerabaanCitraan perabaan adalah citraan yang ditimbulkan melaluiperabaan. Citraan perabaan terkadang dipakai untuk melukiskankeadaan emosional tokoh.3) Gaya KalimatUnsur ketiga yang membentuk verbal karya sastra yang menentukan gayapengarang adalah kalimat. Gaya kalimat digunakan pengarang untuk menyusunkalimat-kalimat dalam karyanya. Pengarang memiliki gaya dan cara tersendiridalam melahirkan gagasan, ada sekelompok bentuk atau beberapa macam

20bentuk yang lazim digunakan dalam karya sastra. Jenis-jenis bentuk gayabahasa yang digunakan oleh para sastrawan dalam karya sastra itu bisa disebutsarana retorika, Pradopo (dalam Ali Imron 2012:109).Berdasarkan gaya kalimatnya, dapat dikemukakan sarana retorika sebagaigaya bahasa meliputi klimaks, antiklimaks, pararelisme, antithesis, repetisi,aliterasi, asonansi, anastrof, apofasis, apostof, asyndeton, polisindeton, kiasmus,ellipsis, eufemisme, litotes, hysteron proteron, pleonasme dan tautologi,parifrasis, prolepsis, erotesis, silepsis, koreksio, hiperbola, paradox, danoksimoron, (Ali Imron 2012:109). Pararelisme merupakan gaya bahasa yangberusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frasa-frasayang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama.4) Gaya WacanaUnsur stilistika karya sastra yang menarik untuk dikaji adalah gaya wacana.Wacana ialah satuan bahasa terlengkap yang dimiliki hierarki tertinggi dalamgramatikal, Kridalaksana (dalam Ali Imron 2012:58). Gaya wacana ialah gayabahasa dengan penggunaan lebih dari satu kalimat, kombinasi kalimat, baikdalam prosa maupun puisi. Gaya wacana dapat berupa paragraf (dalam prosaatau fiksi), bait (dalam puisi/sajak), keseluruhan karya sastra baik prosa sepertinovel dan cerpen, maupun keseluruhan puisi. Termasuk dalam gaya wacanadalam sastra adalah gaya wacana dengan pemanfaatan sarana retorika sepertirepetisi, paralelisme, klimaks, antiklimaks dan hiperbola, serta gaya wacana,campur kode dan alih kode (Pradopo, 2004:12). Kedua gaya itu adalah campurkode dan alih kode digunakan untuk memperoleh efek tertentu sesuai denganunsur-unsur bahasa yang digunakan, misalnya untuk menciptakan efek atausetting lokal, nasional, dan internasional atau universal.

215) Gaya BahasaGaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan Style.Kata Style diturunkan dalam bahasa latin stilus yaitu semacam alat untuk menulispada lempengan lilin. Keahlian menulis pada lempengan lilin berubah menjadikemampuan untuk menulis atau mempergunakan kata-kata secara indah. GorysKeraf (2013:112) mengatakan jika dilihat dari segi bahasa, “gaya bahasa adalahcara menggunakan bahasa”. Fungsi pemakaian gaya bahasa dalam karya sastraseperti dikemukakan Altenberd dan Lewis (dalam Ali Imron, 2013) gaya bahasadalam karya sastra dipakai pengarang sebagai sarana retorika denganmengekploitasi dan memanipulasi potensi bahasa. Sarana retorika merupakansarana kepuitisan yang berupa strategi pikiran.Gaya bahasa merupakan bagian dari pilihan kata atau diksi yangmempersoalkan cocok atau tidaknya pemakaian kata. Gaya bahasa sebagai alatuntuk meyakinkan atau mempengaruhi pembaca atau pendengar. Gaya bahasajuga berkaitan dengan situasi dan suasana karangan. Ali Imron (2012:15)menyatakan fungsi gaya bahasa adalah sebagai berikut:a) Meninggikan selera, artinya dapat meningkatkan minat pembaca ataupendengar untuk mengikuti apa yang disampaikan pengarang ataupembicara.b) Mempengaruhi atau meyakinkan pembaca atau pendengar artinya dapatmembuat pembaca semakin yakin dan mantap terhadap apa yangdisampaikan pengarang atau pembicara.c) Menciptakan keadaan perasaan hati tertentu, artinya dapat membawapembaca hanyut dalam suasana hati tertentu, seperti kesan baik atauburuk, perasaan senang atau tidak senang, benci atau sebagainya

22setelah menangkap apa yang dikemukakan pengarang.d) Memperkuat efek terhadap gagasan, yakni dapat membuat pembacaterkesan oleh gagasan yang disampaikan pengarang dalam karyanya.(1) Gaya Bahasa atau Bahasa FiguratifFigurative berasal dari bahasa latin „figura’, yang berarti form, shape.Figura berasal dari kata fingere arti to fashion. Waluyo (dalam Ali Imron 2012:60)menyatakan ahasa figurative atau bahasa kias digunakan oleh sastrawan untukmengatakan sesuatu dengan cara yang tidak langsung untuk mengungkapkanmakna , membedakan tuturan figurative dengan bahasa literal.Pradopo (dalam Ali Imron 2012:60) berpendapat “bahasa kias padadasarnya digunakan oleh sastrawan untuk memperoleh dan menciptakancitraan”. Tuturan figurative menyebabkan karya sastra menarik perhatianmenimbulkan kesegaran hidup, dan terutama menimbulkan kejelasan anggan.Ali Imron (2012:60) menyatakan “bahasa figurative” merupakan retorikasastra yang sangat dominan”. Bahasa figuratif merupakan cara pengarang dalammemanfaatkan bahasa untuk memperoleh efek estetis dengan mengungkapkanbahasa secara kias yang menyarankan pada makna literal. Bahasa figuratifdalam penelitian stilistika karya sastra dapat mencakup majas, idiom, danperibahasa. Ketiga bentuk bahasa figuratif banyak dimanfaatkan oleh pengarangdalam karya sastranya.Ali Imron (2012:61) menyatakan pemajasan merupakan teknik untukmengungkapkan bahasa, pengayabahasaan yang makna nya tidak menunjukpada makna harfiah kata-kata yang mendukungnya melainkan pada makna yangditambahkan atau makna yang tersirat. Majas adalah gaya yang sengajadigunakan penuturan dengan memanfaatkan bahasa kias. Penggunaan style

23yang berwujud majas, mempengaruhi gaya dan keindahan bahasa karya sastra.Majas yang digunakan secara tepat dapat mengiring kearah interpretasipembaca yang kaya dengan asosiasi, disamping dapat mendukung terciptanyasuasana dan nada tertentu. Penggunaan majas yang baru akan memberikankesan kemurnian, kesegaran, dan mengejutkan sehingga bahasa menjadi efektif.Ali Imron (2012:61) membagi majas menjadi lima yaitu metafora, simile,personifikasi, metonomia dan sinekdoke.(a) Majas MetaforaMetafora adalah majas yang sama seperti majas simile, hanya saja tidakmenggunakan kata-kata perbandingan. Ali Imron (2012:61) mengungkapkan“salah satu wujud kreatif bahasa dalam penerapan makna disebut metafora”.Metafora dapat memberi kesegaran dalam berbahasa, menghidupkan sesuatuyang sebenarnya tak bernyawa, menjauhkan kebosanan karena monoton, danmenghidupkan sesuatu yang sebenarnya lumpuh. Metafora diklasifikasikanmenjadi beberapa macam sesuai dengan tinjauan. Ditinjau dari aspek budayametafora dibagi menjadi dua yaitu metafora universal dan merafora yang terikatbudaya.Metafora universal adalah metafora yang memiliki medan semantik yangsama bagi sebagian besar budaya didunia, baik lambang kias makna yangdimaksudkan. Metafora universal ini berlandaskan pada pemikiran bahwasemua bahasa memiliki sejumlah sifat yang sama dan mampu menampilkancontoh skema organisasi yang sifatnya yang mendasar.Metafora yang terikat oleh budaya adalah metafora yang medan semantikuntuk lambang dan maknanya terdapat pada satu bahasa tertentu saja, dalamhal ini adalah budaya jawa. Kriteria yang dipakai untuk menentukan metafora

24yang terikat oleh budaya itu juga terbatas pada lingkungan fisik dan pengalamankultural yang khas dimiliki oleh penutur asli bahasa jawa.Menurut Leech (dalam Ali Imron 2012:68) menyatakan makna suatu katadapat dilihat dari sudut perkembangannya dalam masyarakat berdasarkan waktubaik secara sinkronis maupun diakronis. Metafora dengan makna majas jugamelalui perkembangan makna itu. Majas metafora merupakan majas yangmengungkapkan perbandingan analogis antara dua hal yang berbeda. Majasmetafora juga bisa diartikan sebagai majas yang dibuat dengan frasa secaraImplisit tidak berarti namun secara eksplisit dapat mewakili suatu maksud lainberdasarkan pada persamaan ataupun perbandingan atau mudahnya majas inidigunakan sebagai bentuk kata kiasan untuk mengungkapkan sesuatu.(b) Majas SimileMajas simile adalah majas yang menyamakan satu hal dengan hal laindengan menggunakan kata-kata pembanding seperti: bagai, sebagi, seperti,semisal, seumpama, laksana, ibarat, bak, dan kata perbandingan lainnya,Pradopo (dalam Ali Imron, 2012:70). Simile merupakan majas yang palingsederhana dan paling banyak digunakan dalam karya sastra. BurhanNugiyantoro (2017:219) berpendapat bahwa simile adalah sebuah majas plisituntukmembandingkan sesuatu yang dibandingkan dengan pembandingnya itu tidaksama baik secara kualitas, karakter, sifat atau sesuatu yang lain.Baldic dalam Burhan Nugiyantoro (2017:219) mengemukakan bahwasimile adalah suatu bentuk pembandingan secara ekplisit diantara dua hal yangberbeda yang dapat berupa benda, fisik, aksi, perbuatan atau perasaan yanglazim nya memakai kata-kata pembanding eksplisit tertentu.

25Majas simile lajimnya menggunakan kata-kata tugas tertentu danberfungsi sebagai penanda keeksplisitan pembandingan, misalnya kata-kataseperti, bagai, bagaikan, sebagai, laksana, mirip, nak, dan sebagainya.(c) Majas majaspersonifikasimerupakan bentuk pemajasan yang memberi sifat-sifat benda mati dengan sifatsifat kemanusiaan. Sifat yang diberikan itu sebenarnya hanya dimiliki olehmanusia dan tidak untuk benda-benda atau makhluk non human yang tidakbernyawa dan tidak berakal. Majas ini juga disebut sebagai majas pengorangan,sesuatu yang diorangkan, seperti halnya orang. Sifat-sifat kemanusiaan yangditransfer ke benda atau makhluk non human itu dapat berupa ciri fisik, sifat,karakter, tingkah laku verbal dan non verbal, fikiran dan berfikir, perasaan danberperasaan, sikap dan bersikap, dan lain-lain yang hanya manusia yangmemiliki dan dapat melakukannya. Benda-benda lain yang bersifat non humantermasuk makhluk-makhluk tertentu, binatang, dan fakta alam yang lain tidakmemilikinya.Majas ini mempersembahkan benda dengan manusia, benda-benda matidibuat dapat berbuat, berfikir, melihat, mendengar dan sebagainya sepertimanusia. Personifikasi banyak dimanfaatkan oleh sastrawan sejak dulu hinggasekarang. Majas personifikasi membuat hidup lukisan dan memberi kejelasangambaran, memberi bayangan secara kongkret, Pradopo (dalam Ali Imron,2012:71).(d) Majas MetonomiaKata Metonimia diturunkan dari kata Yunani ‘meta’ yang berartimenunjukkan perubahan dan anoma yang berarti nama. Metonomia adalah

26suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatuhal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. Hubungan itu dapatberupa penemu untuk hasil penemuan, pemilik untuk barang yang dimiliki, akibatuntuk sebab, sebab untuk akibat dan sebagainya. Metonomia dengan demikianadalah suatu bentuk dari sinekdote, Gorys Keraf (2010:142). Metonomia ataumajas pengganti nama adalah penggunaan sebuah atribut objek ataupenggunaan sesuatu yang sangat dekat berhubungan dengannya untukmengantikan objek tersebut, Altenbernd dan Lewis Pradopo (dalam Ali Imron,2012:71).(e) Majas Sinekdoki (Synecdoche)Sinekdoki berasal dari bahasa yunani „synekdechsthai’yang berartimenerima bersama-sama. Burhan Nurgiyantoro (2017:244) berpendapat bahwa“majas sinekdoki adalah sebuah ungkapan dengan cara menyebut bagiantertentu yang penting dari sesuatu untuk sesuatu itu sendiri”. Majas sinekdoki itusendiri terdapat dua kategori penyebutan yang berkebalikan yang pertamapernyataan yang hanya menyebut sebagian atau bagian tertentu dari sesuatu,tetapi itu dimaksudkan untuk menyatakan keseluruhan sesuatu tersebut,danmajas itu disebut pars pro toto. Kedua, penyebutan kebalikannya yaitu peryataanyang menyebut sesuatu secara keseluruhan, namun sebenarnya itu untuksebagian dari sesuatu tersebut. Majas ini dikenal dengan nama totum pro parte.Ali Imron, (2012:71) menyatakan bahwa majas sinekdoki merupakan suatubagian yang penting suatu hal atau bentuk untuk hal atau benda itu sendiridisebut sinekdote.(f) Majas HiperbolaMajas hiperbola adalah semacam gaya bahasa yang mengandung suatu

27pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan suatu hal (GorysKeraf (2010:135).4. Nilai Pendidikan Karaktera. PendidikanSecara etimologi kata pendidikan dalam bahasa inggris disebut denganeducation, dalam bahasa latin pendidikan disebut educatum yang terdiri dari duakata yaitu E dan Duco yaitu perkembangan dari dalam keluar yang sedangberkembang. Secara etimologi pendidikan adalah proses perkembangankemampuan diri sendiri dan kekuatan individu. Ahmad D Marimba dalamSyamsul (2013:26) menyatakan bahwa pendidikan sebagai bimbingan ataudidikan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan anak didik, baikjasmani maupun rohani, menuju terbentuknya kepribadian yang inisikanpendidikan sebagai tuntutan segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agarmereka kelak menjadi manusia dan anggota masyarakat yang dapat mencapaikeselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tinggi nya. H. Mangun (dalamSyamsul, 2013 :27) berpendapat bahwa pendidikan adalah mempersiapkan danmenumbuhkan anak didik atau individu manusia yang prosesnya berlangsungsecara terus menerus sejak ia lahir sampai meninggal dunia. Proses pendidikanini menurut penulis adalah proses belajar dimana merupakan kewajiban bagisemua manusia untuk belajar semenjak lahir karena dengan pendidikan mampumemberikan kontribusi pengetahuan maupun perkembangan diri.b. KarakterEtimologi kata karakter dalam bahasa inggris berarti character . Dalambahasa Yunani, character dari kata charassein yang berarti membuat tajam atau

28membuat dalam. Karakter juga dapat berarti mengukir. Wardani dalam Syamsul(2013 :28) menyatakan bahwa karakter adalah c

Bidang kajian stilistika adalah stile, bahasa yang dipakai dalam konteks tertentu, dalam ragam bahasa tertentu. Nyoman Kutha Ratna (2013:3) menjelaskan bahwa stilistika adalah ilmu tentang gaya, sedangkan still . 12 (style) adalah cara-cara yang khas, bagaimana segala sesuatu diungkapkan dengan cara tertentu, sehingga tujuan yang dimaksud dapat .