Transcription

PERMODELAN DAN PERHITUNGAN PREDIKSI UMUR VOLUME CADANGANBATUBARA PADA SATU PITSTUDI KASUS: KECAMATAN PENGARON, KABUPATEN BANJARWuryadi.Danu Tri1, Sunaryo. Dedy Kurnia2, Jasmani31,2,3Jurusan Teknik Geodesi S-1 Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Nasional Malang, Jalan BendunganSigura-gura No. 2 Lowokwaru, Kecamatan Sumbersari, Kota Malang – [email protected] KUNCI : Roof and Floor Seam, Volume Wasted Removal, Stripping Ratio, Cadangan BatubaraABSTRAK :Batubara adalah sumber daya alam yang utama guna menopang penyediaan energi nasional sebagai pensuplai utama energipembangkit listrik. Batubara selalu berhubungan dan berkaitan dengan kegiatan pertambangan seperti pengeboran dan surveytopografi, dari pekerjaan inilah diperoleh data-data seperti bentuk permukaan bumi, letak lapisan batubara, atau bahan galianlainnya, bentuk kemiringan, kedalaman, ketebalan dan jenis batuan. Hal ini diperlukannya perhitungan nilai Striping Ratio adalahperbandingan jumlah tanah kupasan penutup batubara dalam satuan meter kubik padat yang harus dibuang untuk menghasilkan 1 tonbatubara. Dari hasil perhitungan software Surpac 6.4.1 tersebut diperoleh informasi cadangan batubara sebesar 660789 bcm danjumlah overburden sebesar 1091003,091 bcm dengan nilai striping ratio 1 : 1,65 di PIT Kasturi dan jangka umur volume cadanganbatubara akan habis 21 bulan . Perhitungan progress bulanan, terhitung dari bulan September 2018 mendapatkan volume cadanganbatubara 30337.55 ton dan volume overburden 118669.80 bcm.1.PENDAHULUAN1.1 Latar BelakangKonsumsi batubara dalam beberapa tahun terakhir mengalamikenaikan yang pesat yang disebabkan oleh meningkatnyapermintaan batubara sebagai sumber energi utama untukpembangkit listrik. Batubara ini diproduksi dan dipergunakanbaik untuk dalam negeri maupun untuk ekspor keluar negeri.Perlu dilakukan proses, tahapan dan pengumpulan data yanglengkap. Beberapa data yang dimaksud tersebut diantaranyaadalah data topografi dan geologi.Data topografi dan geologi tersebut merupakan bagian yangsangat penting dan tentunya sangat berkaitan dalam kegiatanperencaaan pertambangan khususnya pada area batubara. Darikedua data tersebut maka didapatkan hasil dan informasi sepertibentuk permukaan yang menggambarkan relief bentukpermukaan bumi dan struktur geologi yang menggambarkanbentuk lapisan batubara. Jika semua data tersebut sudahdiperoleh maka dapatlah direncanakan penambangan,penambangan di sini maksudnya ialah kegiatan penggalianuntuk mendapatkan batubara, namun sebelum dilakukanpenggalian tentunya perlu dilakukan perhitungan Striping Ratio.Pengertian Perhitungan Striping Ratio adalah perbandinganjumlah tanah kupasan penutup batubara dalam satuan meterkubik padat yang harus dibuang untuk menghasilkan 1 tonbatubara. Dapat disebut juga dengan rasio kupasan (denganbatubara) pada tambang batubara terbuka. Untuk menghitungStriping Ratio yang praktis dan akurat maka diperlukanperangkat lunak tambang yang dapat memfasilitasi tujuan yangkita inginkan.Hasil perhitungan Striping Ratio sangat penting untuk industritambang. Setelah didapatkannya nilai Stripping Rasio diPenelitian ini juga akan menghitung prediksi umur volumecadangan batubara, untuk mengetahui berapa lama etproduksinya.Dari latar belakang diatas inilah, maka dibuatkan prosesperhitungan Striping Ratio dan perhitungan prediksi volumecadangan batubara dengan menggunakan perangkat lunakSurpac agar dapat memudahkan dalam melakukan perhitunganStrping Ratio perhitungan prediksi volume cadangan batubaradi pekerjaan pertambangan.1.2Rumusan MasalahBerdasakan uraian pada latar belakang yang telah dijelaskansebelumnya, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu:Untuk mendapatkan hasil volume lapisan tanah penutup danbatubara guna menghitung nilai SR serta merancang modelstrukur Roof and Floor, Seam.1.3Tujuan Dan Manfaat Penelitian1.3.1Tujuan Penelitian: Tujuan dari penelitian ini adalahsebagai berikut 1). Membuat model Roof and Floor batubara.2). Mendapatkan volume cadangan batubara. 3). MendapatkanWaste Removal. 4). Menghitung nilai Stripping Ratio. 5).Menghitung prediksi umur volume cadangan batubara.1.3.2Manfaat Penelitian: Manfaat dari penelitian iniyaitu: 1). Bagi perusahan di bidang batubara owner maupunkontraktor perhitungan SR sangat diperlukan guna mengetahuiperbandingan Waste Removal terhadap volume cadanganbatubara. 2). Perhitungan SR dan hasil target produksi dapatdijadikan sebagai rencana mengetahui umur cadangan batubara.3). Bagi pembaca skripsi ini manfaatnya adalah dapatmengetahui proses pengerjaan mendapatkan nilai SR, prediksiumur cadangan volume batubara dan permodelannya.1.4Batasan MasalahBatasan masalah yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:1). Data penelitian menggunakan data Collar, Geologi, danSurvey Topografi. 2). Proses pengerjaan menggunakan softwareSurfac 6.3. 3). Area yang dihitung volume cadangan batubaranya adalah di PIT Kasturi berlokasi Kecamatan Pengaron,

Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. 4). Proses perhitunganSR tidak menggunakan blok model melainkan keseluruhansecara kumulatif2.1.5Cadangan batubara terkira adalah sumberdaya batubaraterunjuk dan sebagian sumberdaya batubara terukur yangtingkat keyakinan geologinya masih rendah.Cadangan batubara terbukti (Proved Coal Reserve)Sistematika Penulisan2.3. Jenis TambangBab I Pendahuluan yang menjelaskan tentang latar belakang,rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, batasanmasalah, dan sistematika penulisan. Bab II Dasar Teori yangmenjelaskan tentang teori-teori yang berhubungan dengan topikpenelitian yang dilakukan. Bab III Metodologi Penelitian yangmenguraikan tetang bahan dan alat yang digunakan dalammelakukan penelitian, jadwal penelitian, dan diagram alir prosespenelitian.2.DASAR TEORI2.1. Klasifikasi BatubaraPengelompokan batubara berdasarkan kualitas atau sifat tertentumisalnya jenis batubara, peringkat, perbandingan karbonhidrogen, zat terbang dan sebagainya. Istilah itu juga berartipengelompokan atau analisis batubara menurut sifat tertentuseperti derajat metamorfosis (peringkat), bahan tumbuhanpembentuk batubara atau tingkat pengotorannya. Dapat jugadiartikan sebagai analisis atau pengelompokan batubaramenurut presentase zat terbang, sifat-sifat penggumpalan(caking) dan sifat kokasnya. (M. Taufik Akbar, 2011).2.2. Klasifikasi Sumber Daya Dan Cadangan Batubara2.2.1Klasifikasi Sumber Daya: Sumberdaya batubara(Coal Resources) adalah batubara yang diharapkan dapatdimanfaatkan secara nyata. Sumberdaya batubara dengankeyakinan geologi tertentu dapat berubah menjadi cadangansetelah dilakukan pengkajian kelayakan tambang dan memenuhikriteria layak tambang. sumberdaya batubara dapatdiklasifikasikan dalam beberapa bagian yaitu:1. Sumberdaya batubara hipotek (Hypothic coal resource).Sumberdayahipotek adalah batubara didaerahpenyelidikan yang dihitung berdasarkan data yangmemenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahappenyelidikan survei tinjau. Survei tinjau merupakantahapan eksplorasi yang paling awal dengan tujuanmengindentifikasi daerah daerah yang secara geologismengandung endapan batubara yangberpotensi untukdiselidiki lebih lanjut.2. Sumberdaya batubara tereka (Inferred Coal Resource).Sumberdaya batubara tereka adalah sumberdaya batubarayang kuantitas dan kualitasnya diperoleh pada tahapprospeksi. Prospeksi merupakan tahap eksplorasi yangbertujuan untuk membatasi daerah sebaran endapanbatubara yang akan menjadi sasaran eksplorasi.3. Sumber daya batubara tertunjuk (Indicated CoalResource). Sumberdaya batubara tertunjuk merupakansumberdaya batubara yang kuantitas dan kualitasnyadiperoleh pada tahap eksplorasi umum.4. Sumber daya batubara terukur (Measured Coal Resource).Sumberdaya batubara terukur adalah sumberdayabatubara yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh daripada tahap eksplorasi rinci (M. Taufik Akbar eserves) adalah bagian dari sumber daya batubara yangtelah diketahui dimensi, sebaran kuantitas, dan kualitasnyasehingga pada saat pengkajian kelayakan dinyatakan layakuntuk ditambang. Ada dua jenis cadangan batubara:1. Cadangan batubara terkira (Probable Coal Reserve)Di dunia pertambangan, khususnya tambang batubara dikenalada 3 jenis tambang yaitu:1. Tambang terbuka (surface mining or open pit mining),yaitu metode penambangan yang segala kegiatanpenambangannya di atas atau relatif dekat denganpermukaan bumi.2. Tambang bawah tanah (underground mining), yaitumetode penambangan yang aktivitas penggalianbatubaranya dilakukan di bawah permukaan bumi dantempatnya tidak langsung berhubungan dengan dunia luar.3. Tambang bawah air (underwater mining) merupakanmetode penambangan batubara yang penggaliannyadilakukan dibawah air atau endapan mineral berharganyaterletak dibawah permukaan air.2.4. PETA TOPOGRAFISebagai bagian dari komunitas ahli ilmu kebumian, pasti sudahtidak asing lagi dengan peta topografi. Peta topografi inipenting, karena sebagai peta dasar, nantinya dapat digunakansebagai dasar bagi pengembangan sebagai peta-peta tematiklainnya. Untuk kebutuhan perencanaan tambang terbuka, petatopografi memegang peranan sentral, karena dari sini nantinyaakan diturunkan beberapa satuan peta, seperti:1. Peta hasil eksplorasi, yang memuat informasi tentangposisi singkapan batubara, posisi titik bor, dll.2. Peta ketebalan batubara3. Peta ketebalan overburden4. Peta distribusi fungsi kualitas, misalnya kadar sulfur,distribusi kalori, dll.5. Peta jalan tambang dan kemiringan lereng6. Peta layout dan kemajuan tambang7. Peta perencanaan drainase tambang (peta penyaliran)dan lain-lainDengan demikian pemahaman tentang peta topografi bagiseorang perencanaan tambang adalah mutlak.2.5. Pit BatubaraPit batubara adalah lubang atau cekungan yang diakibatkan olehkegiatan penambangan batubara. Pit ini merupakan area yangtelah dikupas tanah permukaannya sampai dengan lapisanbatubaranya terlihat.Gambar 1. Pit Batubara (Dokumen Pribadi)2.5.1.Istilah Pada Pit: Ada beberapa istilah pada Pit areatambang, diantarana sebagai berikut:1. Seam Batubara Seam batubara adalah lapisan batubara.2. Low Wall Merupakan dinding yang dibentuk searah denganarah kedalaman (Dip) dari batubara. Sudut kemiringandinding ini biasanya mengikuti sudut dip dari keterdapatan

batubaranya, kecuali apabila terdapat kondisi tertentu yangharus dibentuk dinding dengan bentuk khusus.Gambar 2. Low Wall (Dokumen Pribadi)3. High Wall merupakan dinding yang dibentukberlawanan/memotong arah dip batubara. Sudut kemiringandinding ini berdasarkan hasil perhitungan geoteknis darikondisi batuan yang terdapat di daerah tersebut. Sudutkemiringan yang di harapkan adalah mendekati 90 , karenaakan semakin mengurangi biaya produksi tetapi faktorkeselamatanlah yang paling utama untuk dipertimbangkanagar tidak terjadi longsor.Gambar 3. High Wall (Dokumen Pribadi)4. RampRamp atau jalan yang terdapat pada pit merupakan faktorpenting dalam menunjang produksi dan produktifitas unitsehingga achievmentnya baik. Diantara parameter jalanyang musti dipertimbangkan :a. Grade jalan, biasanya digunakan 8% - 10% sesuai denganspec unit hauling.b. Lebar jalan, 3x unit terbesar.c. Tanggul sebagai pengaman agar ketika terjadi slip padaunit tidak langsung jatuh/terguling/terbalik.d. Hauling distance, jarak dari front loading ke disposaluntuk keperluan maching fleet.e. Radius tikungan, dibuat sehalus mungkin, menghindaribidang gelincir.Gambar 4. Ramp (DokumenPribadi)2.6. Stripping RatioDalam pertambangan, Stripping Ratio atau Strip Ratio mengacupada rasio volume Over Burden (atau limbah) yang diperlukanuntuk ditangani dalam rangka untuk mengambil beberapavolume bijih. Misalnya, rasio 3: 1 stripping berarti bahwapertambangan satu meter kubik bijih akan membutuhkanpertambangan tiga meter kubik limbah batuan rasio pengupasanbiasanya dikurangi untuk menunjukkan volume pembuangansampah diperlukan untuk mengambil salah satu satuan volumebijih. , misalnya, 1,5: 1 sebagai lawan 3: 2. Bila dibandingkandengan tambang permukaan, yang mengharuskan Over Burdenremoval sebelum bijih ekstraksi, operasi penambangan bawahtanah cenderung memiliki rasio pengupasan yang lebih rendahkarena meningkatnya selektivitas. Semua faktor lainnya sama,pertambangan pada stripping ratio yang lebih tinggi kurangmenguntungkan dari pertambangan di stripping ratio yang lebihrendah karena lebih banyak limbah harus dipindahkan (denganbiaya per satuan volume) untuk volume setara bijihmenghasilkan pendapatan. Jika rasio yang terlalu tinggimengingat harga tertentu bijih dan terkait biaya penambanganmaka mungkin tidak ekonomis untuk melakukan pertambangan(F.Wendi, 2015).2.6.1Definisi Stripping Ratio: Yaitu berapa jumlah waste(tanah buangan baik O/B maupun batuan samping) yang harusdibuang/disingkirkan untuk memperoleh 1 ton endapan bijihsampai pada ultimate pit limit (Fadli, 2015)SR BCM OB / Stripping cost (ton coal)SR Jumlah Waste (m3/ton) / Jumlah Ore (m3/ton)SR 1 Ongkos pengupasan lebih kecil (Tamka)SR 1 Ongkos pengupasan lebih besar (Tamda)SR 1 Bisa Tamka/Tamda2.6.2Faktor-Faktor Pengaruh Untuk Stripping Ratio:Faktor yang mempengaruhi stripping ratio adalah :1. Faktor volume, volume faktor merupakan tahap awaldalam penentuan stripping ratio. Penampang litologypemboran menunjukan formasi litologi yang ditembus danketebalan formasi litologi. Dari informasi tersebut,dilakukan identifikasi ketebalan tanah penutup danbatubara Untuk batubara dengan sistem perlapisanmultiseam, dilakukan dengan penjumlahan total ketebalanuntuk seluruh seam. Prosedur ini berlaku untuk seluruhlubang bor ketebalan dari tanah penutup dan batubaraberpengaruh terhadap Perhitungan luas daerah tergantungdari metode perhitungan cadangan yang digunakan.Setelah luas daerah diketahui, lalu dilakukan kalkulasiantara ketebalan rata-rata batubara maupun tanah penutuppada daerah tersebut dengan luasan daerah, dan diperolehvolume tanah penutup dan batubara pada daerah tersebut2. Faktor tonase, Pada industri pertambangan, penjualanbahan galian dan kapasitas Produksi dilakukan dari atasdasar berat dari bahan galian tersebut. Hal ini berlawanandengan industri perancangan sipil dimana pembayarandilakukan atas dasar volume material yang dipindahkan.Konversi dari volume ke berat harus dilakukan dalamkaitannya dengan kegiatan pemuatan, pengangkutanmaupun untuk kegiatan pengolahan.3. Nisbah pengupasan, Salah satu cara menguraikaneffisiensi geometri dari operasi penambangan berdasarkannisbah pengupasan. Nisbah pengupasan (stripping ratio)menunjukkan perbandingan antara volume/tonase tanahpenutup dengan volume/tonase batubara pada areal yangakan ditambang. Rumusan umum yang sering digunakanuntuk menyatakan perbandingan ini: Stripping Ratio Tanah Penutup (ton)/Batubara (ton).2.7. Penentuan Luas Cara NumerisPenentuan luas secara numeris dapat dilakukan denganmemakai koordinat, apabila titik-titik batas tanah diketahuikoordinatnya. Dengan ukuran dari batas tanah, jika batas-batastanah diukur langsung (disebut juga angka-angka ukur).Penentuan luas area pada perangkat lunak Surpac dilakukandengan menghitung area yang telah didefinisikan oleh koordinatterluar menggunakan cara numeris. Penentuan luas secaranumeris dijelaskan sebagai berikut: Misal sebidang tanah yangdibatasi oleh titik A, B, C, D yang diketahui koordinatnya: A

(X1, Y1), B (X2, Y2), C (X3, Y3), D (X4, Y4). Lihat gambardibawah sebagai berikut berikut:Gambar 5. Penentuan luas cara numeris dengankoordiatLuas segi empat ABCD (luas trapesium A1ABB1) (luas trapesium B1BCC1) (luastrapesium D1DCC1) (luas trapesium A1ADD1) . (1)Luas segi empat ABCD 11(X2 - X1) (Y2 Y1) 2 (X3 - X2) (Y3 Y2) –2112(X3 - X4)(Y3 Y4) (X1 – X4) (Y4 Y1) . (2)2Dapat disederhanakan menjadi : (Survey Rekayasa Sipil,FerrySobatnu 2009)luas ABCD [( Xn – Xn-1 ) (Yn – Yn-1)] Apabila gambardiproyeksikan terhadap sumbu X . (3)luas ABCD [( Yn – Yn-1 ) (Xn – Xn-1)]Apabila gambar diproyeksikan terhadap sumbu Y . (4)Kedua rumus diatas dapat disederhanakan menjadi:luas ABCD [Xn (Yn-1 – Yn 1) . (5)luas ABCD [Xn (Xn 1 – Xn-1)] . (6)2.8. Metode Perhitungan Volume BatubaraMetode perhitungan volume batubara pada dasarnyamenggunakan prinsip perhitungan volume dari bagianpermukaan batubara yang dibatasi oleh penampangpenampangmelintangnya. Perhitungan volume batubara dapat dilakukandengan beberapa metode, antara lain :2.8.1Menghitung Volume Dengan Luas Penampang:Konsep sederhana dalam menghitung volume dari suatu galianatau timbunan, yaitu dengan mengambil nilai rata-rata luaspenampang dikali jarak horisontal antara kedua penampangtersebut. (Tjitro, 1992)Lihat gambar dibawah berikut:Gambar 6. Perhitungan Volume Cara LuasPenampang (Tjitro, 1992)Jika A1 dan A2 masing-masing adalah luas penampang ujungdari stasiun yang berlainan yang dipisahkan oleh jarak Lmaka volume tanah dua stasiun tersebut dapat dihitung dnganrumus volume: Va ½ L. (A1 A2) . (7)2.8.2Menghitung Volume Dengan PrismoidaLihat gambar dibawah berikut:Gambar 7. Penentuan volume dengan cara prismoida (Tjitro,1992).L : Jarak antara ujung penampang I dengan penampang IId: Panjang dasar galianh: tinggi rencanaA: Luas penampangJika ada tiga penampang yang telah direncanakan galianmaupun timbunannya maka perhitungan volume dapatdilakukan dengan cara prismoida.1Vp : (A1 4 Am AII) . (8)6Jika dibandingkan dengan hasil perhitungan dengan1menggunakan rumus dasar sebagai berikut Va : L (A1 A2)2maka terdapat perbedaan nilai dengan Vp. Perbedaan nilai yangterjadi tersebut dinamakan koreksi prismoida (Kp). Dalambentuk matematik koreksi tersebut Yaitu:1Kp : 12 L (h1 – h2) ( D1 – D2) . (9)Dalam hal ini:h1 : Jarak vertikal terhadap dasar rencana pada center line(as) penampang 1h2 : Jarak vertikal terhadap dasar rencana pada center line(as) penampang 2D1: Jarak perpotongan garis rencana dan garis profil padaujung-ujung penampang 1D2 : Jarak perpotongan garis rencana dan garis profil padaujung-ujung penampang 2L : Jarak antara penampang 1 dan 22.8.3Menghitung Volume Dengan Menggunakan TitikTinggi: Prinsip perhitungan volume galian dan timbunanapabila data-data titik tinggi diketahui, yaitu dengan rumus: V:1/n ( hn ) A. (Tjitro, 1992). Dalam hal ini:h : Jarak vertikal terhadap garis dasar rencanaA: Luas yang dibatasi titik-titik tinggin : Banyakya titik tinggi.Gambar 8. Penentuan volume dengan titik tinggi (Tjitro, 1992).Jika empat titik membentuk suatu persegi empat dengan sisi ameter dan b meter (Gambar 9.), elevasi masing-masing titiktinggi H1, ., Hn, dengan kedalaman masing- masing titik, h.maka rumus volumenya,V 1/2 (h1, h2,h3,h4). d2 . (10)ℎ1 ℎ2 ℎ3 ℎ4V A. (11)4Akan tetapi jika penampang prisma adalah segitiga,maka volumenya;ℎ1 ℎ2 ℎ3V A. (11)3Keterangan persamaan:d : luas dasar galianh : kedalaman titik tinggi

2.8.3Menghitung Volume Galian Dengan GarisKontur: Untuk menghitung volume tanah dapat digunakangaris kontur yang ada pada peta. Dengan rumus pendekataanV 1/2 (A B ).I . Dalam hal ini: (Tjitro, 1992).A : Luas Penampang 1B : Luas Penampang 2C : Interval Kontur2.3.Gambar 9. Menentukan volume dengan garis kontur (Tjitro,1992).Daerah dengan kontur 100 diukur luasnya dengan planimater L(100): 100 m2 dan daerah dengan kontur 200 luasnya, L (200) :150 m2 sehingga:I 100-200 100 mVAB 1/2 ( 100 150).100 12500 m32.9. Perhitungan Cadangan Batubara Dan LapisanTertutupKonsep perhitungan volume cadangan dan lapisan tanahpenutup adalah menghitung cadangan dengan dua buah modelsurface sebagai pembatas dari material yang dihitung. Volumelapisan tanah penutup terdiri dari volume overburden danvolume interburden. Lapisan overburden merupakan lapisantanah dan batu yang ada di atas lapisan batubara. Lapisaninterburden merupakan lapisan yang berada diantara dua buahlapisan batubara. Lapisan ini berupa tanah/ batuan yang harusdikupas terlebih dahulu untuk mendapatkan batubara. Prosesperhitungannya dilakukan menggunakan software Surpac 6.1.2Model disini berupa kontur digital maupun menggunakan DTM,Adapun bentuk lapisan batubara dapat dilihat pada Gambar 10.dibawah ini.Gambar 10. Lapisan batubara2.10. Perangkat Lunak Surpac 6.3Surpac merupakan software tambang program tiga dimensiyang digunakan untuk melakukan proses pembuatan minedesign, surface modeling, pembuatan model dtm, dan lain-lain.Surpac mempunyai fasilitas atau tools menu yang mempunyaiaplikasi untuk membantu proses engineering, surveying,geology, mining dan lain-lain. Dari berbagai aplikasi yang telahdisebutkan, Surpac memiliki fungsi-fungsi untuk pengolahandata, menghitung estimasi sumberdaya, cadangan, perencanaandan operasi dalam siklus pertambangan. Surpac adalah softwareyang paling populer di dunia geologi dan perencanaan.Perangkat lunak ini memberikan efisiensi dan akurasi melaluikesmudahan penggunaan 3D grafis yang bagus dan alur kerjaotomatis yang dapat disesuaikan, data yang diperlukan :1. Geologi terdiri dari Hole Id, Sample Id, Depth from,Depth to, Rocktype dan Seam, berikut Penjelasan singkat: Hole Id : Nomor lubang bor Sample Id : Nomor sample lapisan tanah Depth From : Kedalaman awal lapisan Depth To : Kedalaman akhir lapisan Seam : Grup lapisanCollar terdiri dari Hole Id, Northing, Easthing, Elevation,Max Depth, Hole Path dan Location. Hole ID : Nomor lubang bor Northing : Koordinat Y untuk posisi Easthing : Koordinat X untuk posisi Max Depth : Kedalaman Maksimum Pengeboran Hole Path : Bagian bor Location : Lokasi pengeboranTopografi terdiri dari Northing, Easthing, Elevation,String dan Code Northing : Koordinat Y untuk posisi Easthing : Koordinat X untuk posisi Elavation : Tinggi permukaan tanah String : Untuk warna garis atau titik pada surpac Code : kode untuk penandaan atau bersifatdeskriptif2.10.1 Digital Terrain Model (DTM): “Digital TerrainModel (DTM) adalah representasi statistik permukaan tanahyang kontinyu dari titik-titik yang diketahui koordinat X, Y, danZ nya pada suatu sistem koordinat tertentu.”(Li Zhilin dan Gold,2005). Suatu DTM merupakan sistem yang terdiri dari duabagian, yaitu sekumpulan titik-titik yang mewakili bentukpermukaan terrain yang disimpan pada memori komputer, danAlgoritma untuk melakukan interpolasi titik-titik baru dari datatitik yang diberikan atau menghitung data lain. (Linkwitz, 1970)DTM sendiri dapat diartikan sebagai representasi ketinggiandari suatu continuous terrain atau permukaan (tanpa ada featurealam dan hand made) dalam bentuk digital atau numeris, dalamsistem koordinat X, Y, Z. Pengertian DTM mencakup tidakhanya tinggi (height) dan elevasi (elevation), tetapi juga unsurunsur morfologi yang lain seperti garis sungai, dsb.(Dipokusumo dkk, 1983). Ilustrasi DTM ditunjukkan padaGambar 11.Gambar 11. DTM (Digital Terrain Model), (Dipokusumo dkk,1983).2.10.2 Triangel Based Modeling: TIN adalah salah satumetode untuk merepresentasikan suatu surface (permukaan)dalam bentuk jaring – jaring segitiga (Zhilin dan Gold, 2005).Dalam pembentukan TIN dibutuhkan setidaknya enam titikyang dapat digunakan untuk pembentukan jaring segitiga. Tigatitik berada pada node sebagai ujung sisi – sisi segitiga dan tigatitik lainya merupakan titik luar yang membentuk jaring segitigalain.Konsep pembentukan TIN didasarkan pada delaunaytriangulation. Delaunay triangulation merupakan suatu metodeuntuk membangun geometri segitiga dimana metode inimemaksimalkan sudut minimum dari semua sudut segitigatersebut. Gambar menyajikan pembentukan TIN dengan konsepDelaunay triangulation.

3.3. PersiapanPersiapan yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari:Gambar 12. Pembentukan TIN dengan Delaunay Triangulation(Geodis-Ale, 2012).2.10.3 Grid Based ModelingPada grid-based modeling titik-titik tersebar secara merata danteratur pada seluruh permukaan model digital (DTM) dalaminterval tertentu. Titik DTM dapat berupa titik sampel maupuntitik hasil interpolasi. Permukaan model digital terbentuk olehgrid yang menghubungkan titik-titik DTM.3.METODOLOGI PENELITIAN3.1. Metodologi PenelitianDalam melakukan penyelesain penelitian ini ada beberapa tahapyang dilakukan yaitu :1. Studi LiteraturStudi literatur ini diperlukan untuk mengetahui dasardasar teori yang dapat menjadi acuan2. Pengumpulan DataDalam penelitian ini ada beberapa data yang diperlukanuntuk menyelesaikannya yaitu data Geologi, Coular,Survey topografi, dan Data Bor serta data pendukungyang dikumpulkan berdasarkan literatur dan referensi.3. Analisis DataSetelah data terkumpul baik itu data primer dan skunder,dilakukan perhitungan pada data bor untuk mengetahuiketebalan dari batu bara yang didalamnya. Setelah itudilakukannya perhitungan volume cadangan batu baradengan menggunakan Cross Section dan Software Surfac6.3 mengetahui batas pertambangan yang sudah disurvey.4. Penyusunan laporan penelitianHasil yang didapat dari Analisa, kemudian dosimpulkandan disajikan dalam bentuk satu laporan.3.2. Lokasi PenelitianPenelitian ini dilakukan di PT. Ramadhika Jaya PIT Kasturiberlokasi di Kecamatan Pengaron, Kabupaten BanjarKalimantan Selatan yang bergerak pada kegiatan kontraktorbatubara.Gambar 13. Pengaron (Sumber: GoogleMap)3.3.1Peralatan Dan BahanPeralatan dan bahan yang diperlukan dalam penelitian ini antaralain:1. Perangkat Kerasa. (Satu buah) Prosesor : AMD Quad-Core A8-4500M,(1,9 GHz Turbo 2,8GHz), APU Radeon HD 7640M,VGA AMD Radeon HD 8750M 2GB, Ram 4 GBDDR3 dan Hard Disk : 500 GBb. (Satu Buah) Mouse Toshibac. (Satu Buah) Flashdisk2. Perangkat Lunaka. Microsoft Excelb. Surfac 6.4.13. Bahana. Data (Survey/Topografi, Collar dan Geologi) didapatkan dari perusahaan tahun 2017 PT.Ramadhika Jayab. Data hasil target produksi tiap bulan di dapatkandari perusahaan tahun 2018 PT. Ramadhika Jaya3.3.2Waktu PenelitianPerencanaan jadwal penelitian digunakan sebagai estimasiwaktu dalam melakukan penelitian sehingga dapat selesai sesuairencana. Rencana tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. berikut:BulanNo.Kegiatan1.Tahap persiapanPengumpulan datapenelitianProses pembuatanVolumePerhitungan PrediksiUmur CadanganBatubarPenyusunan laporan2.3.4.6.Januari2018vvFebruari2018vvv3.4. Perhitungan Cadangan Batubara3.4.1Metode Cross Section: Perhitungan cadanganbatubara dengan menggunakan metode cross section rule ofgradual change ini dilakukan pada wilayah rencanapenambangan Pit Nangka Pt.Berkat Indo Jaya tergantung padaketebalan, panjang dan densitas batubara disetiap penampangdan jarak interval setiap penampang. Jarak antara tiap sayatanbervariasi mengikuti letak singkapan pada penyelidikaneksplorasi. Dalam perhitungan kali ini, di terapkan duapendekatan metode cross section, yaitu Rule of Gradual Change(standard). Cadangan adalah bagian dari sumberdaya terukuryang telah diketahui dimensi, kedalaman, dan kemiringan.

Gambar 14. Metode Cross Section dengan pedoman rule ofgradual changes (Isaaks, 1989)3.4.2Software Surfac 6.4.1: Aplikasi Surpac 6.4.1 Surpacadalah salah satu perangkat lunak yang popular di bidanggeolagi dan perencanaan tambang yang mendukung operasitambang dan proyek-proyek eksplorasi di lebih dari 90 Negara.Perangkat lunak ini memberikan efisiensi dan akurasi melaluikemudahan penggunaan, grafis tiga dimensi yang baik dan alurkerja otomatis yang dapat disesuaikan dengan proses khususperusahaan dan data yang di input (Surpac Minex Group, 2006).3.5. Diagram AlirGambar 15. Diagram Alir3.5.1Model Surface Topografi: Adapun langkah inidimaksudkan untuk memodelkan hasil data survey yangdidapatkan dalam bentuk 3d menggunakan format dtm sepertigambar dibawah ini.Gambar 16. Hasil gambar surface topografi dalam format dtm3.5.2Struktur Roof Dan Floor: Model struktur roof danfloor didapat dengan cara membuat database geologi terlebihdahulu pada Surpac. Untuk membuat database geology,diperlukan data masukan berupa data survey, collar dan geologiyang diperoleh dari pengukuran topografi dan pengeboran dilapangan. Data tersebut disusun berdasarkan format standarpenyusunan Surpac. Data tersebut harus tersusun dalam format*str agar dapat terbaca pada Surpac.Pembuatan titik roof dan floor dapat terbentuk apabila prosesdatabase geologi berhasil dijalankan sehingga pemodelanstruktur roof dan floor dapat terbentuk. Lapisan batubara padalokasi penambangan jarang ditemui hanya satu lapisan batubarasaja, melainkan terdapat dua atau empat lapisan batubarasehingga proses pembuatan model strukturnya mengikutiseberapa banyak lapisan batubara yang ada. Studi proyek inimemiliki area tambang yang multi seam yang artinya lapisanbatubaranya memiliki lebih dari satu lapisan.3.5.3Boundary: Maksud dari langkah boundary adalahuntuk membatasi wilayah batas-batas dari titik-titik bor dengancara di digitasi, menyambug data titik-titik bor yang terluarmenjadi kesatuan seperti polygon.3.5.4Permodelan Hasil Produksi Cadangan Batubara:Survey pemetaan tambang merupakan tahapan dalam prosespenambangan yang mencangkup beberapa pengukuran,perhitungan dan pemetaan yang dapat membantu untukmenentukan dan merencanakan serta menjelaskan semuainformasi yang ada pada setiap tahapan untuk mengeksploitasidan memanfaatkan mineral atau bahan tambang dengan sistempenambangan terbuka dan tertutup. Dalam sistem penambanganbaik tambang terbuka maupun tertutup akan selalu di awalidengan pengukuran original atau pembukaan lahan yangnantinya akan menghasilkan Progress (kemajuan).Pengukuran original merupakan pengukuran setelahpembersihan lahan (Land Clearing) atau dengan kata lainpengukuran pembuka lahan pertama yang nantinya bergunauntuk menentukan situasi original yang digunakan sebagai dasarperhitungan volume. Sedangkan pengukuran Progressmerupakan pengukuran yang dilakukan dalam waktu tertentuuntuk mendapatkan data-data yang diguna

PERMODELAN DAN PERHITUNGAN PREDIKSI UMUR VOLUME CADANGAN BATUBARA PADA SATU PIT STUDI KASUS: KECAMATAN PENGARON, KABUPATEN BANJAR Wuryadi.Danu Tri1, Sunaryo.Dedy Kurnia2, Jasmani3 1,2,3Jurusan Teknik Geodesi S-1 Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Nasional Malang, Jalan Bendungan Sigura-gura No. 2 Lowokwaru,