Transcription

EVALUASI PERENCANAAN BANGUNAN SIPHONPADA BENDUNG SEI PADANG KAB.SERDANGBEDAGAI SUMATERA UTARASKRIPSIDiajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam MemperolehGelar Sarjana Teknik Di Universitas Medan AreaOLEH:IDO RIZKY HARAHAPNPM : 15.811.0094PROGRAM STUDI TEKNIK SIPILFAKULTAS TEKNIKUNIVERSITAS MEDAN AREAMEDAN2017UNIVERSITAS MEDAN AREA

UNIVERSITAS MEDAN AREA

UNIVERSITAS MEDAN AREA

UNIVERSITAS MEDAN AREA

ABSTRAKJalur saluran irigasi mulai dari intake hingga bangunan sadap terakhir kadangkadang harus berpotongan atau bersilangan dengan berbagai rintangan antara lainjalan, saluran/alur alamiah, sungai bahkan jurang. Untuk itu diperlukan bangunanpersilangan agar dapat menyeberangkan debit yang dialirkan oleh saluran dari sisihulu ke sisi hilirnya. Bangunan siphon ini merupakan salah satu bangunanpersilangan yang dibangun untuk mengalirkan debit yang dibawa oleh saluranyang jalurnya terpotong oleh sungai.Dari hasil perhitungan dimensi bangunan siphon dengan debit 6,258 m³/dt,diperoleh dimensi bangunan siphon dimana lebar (B) 1,2 m dan tinggi bangunansiphon 1,7 m, serta kehilangan tinggi energi terjadi karena adanya peralihanbentuk saluran, gesekan air dengan saluran, belokan dan saringan sebesar 0,124m, ini menunjukkan bahwa sipon masih dapat diterima dalam membawa air.Untuk mengurangi kehilangan energi, maka lokasi siphon diusahakan padabentang sungai terpendek, serta memperkecil jumlah belokan pada konstruksisiphon. Tulangan yang digunakan pada bangunan siphon diperoleh menggunakanD13-100 untuk tulangan pokok dan D10-150 untuk tulangan bagi.Kata Kunci : siphon, dimensi, kehilangan tinggi tekanan.UNIVERSITAS MEDAN AREAi

ABSTRACTIrrigation channel start from intake to the last division structure sometimes haveto cut off or across with various obtacles, such as road, natural channel, rivereven ravine. Therefore it is required an acrossing structure in order to flow thewater from upstream to downstream area. The syphon is one of several acrossingstructure that constructed to flow water where the canal is crossed by river.By the calculation, Dimension of syphon with design discharge 6,258 l/s we findthe width is 1,2 m, the depth is 1,7 m and the head loss cause transition canal,convergence, friction, bend and trash rack are 0,124 m. This is indicated thatsyphon is acceptable to bring the water. To minimize head loss and number ofbends, the location of syphon should be in minimum section of river. Thereinforcement of concrete syphon is used D13-100 for main reinforcement andD10-150 for lateral reinforcement.Key Words: syphon, dimension, head loss.UNIVERSITAS MEDAN AREAii

KATA PENGANTARPuji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat,perlindungan, serta kasih sayang-Nya yang tidak pernah berhenti mengalir danselalu menyertai, yang selalu diberikan kepada penulis sehingga penulis dapatmenyelesaikan Skripsi ini dengan baik dan tepat waktu.Penulis menyadari keberhasilan dalam menyelesaikan penulisan Skripsi initidak lepas dari dukungan dan bantuan dari berbagai pihak-pihak, baik yangsecara langsung maupun tidak langsung telah membantu. Oleh karena itu padakesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:1. Bapak Prof.Dr. Ya’kub Matondang, M.A., selaku Rektor Universitas MedanArea;2. Bapak Prof.Dr.Dadan Ramdan, M.Eng, M.Sc., selaku Dekan Fakultas TeknikUniversitas Medan Area;3. Bapak Ir.Kamaluddin Lubis, M.T., selaku Ketua Program Studi Teknik Sipil;4. Bapak Ir.Edy Hermanto, M.T., selaku Pembimbing I, atas kesabaran,bimbingan, waktu yang telah banyak diberikan kepada penulis dan masukanyang telah diberikan serta ilmu yang telah diajarkan;5. Ibu Ir.Nuril Mahda Rangkuti, M.T., selaku Pembimbing II atas kesabaran,bimbingan, waktu yang telah banyak diberikan kepada penulis dan masukanyang telah diberikan serta ilmu yang telah diajarkan;6. Seluruh Dosen, Karyawan, dan Staf Universitas Medan Area;UNIVERSITAS MEDAN AREA

7. Orang tua tercinta dan saudara-saudara yang telah memberikan curahan kasihsayang, doa dan membantu berupa moral dan material yang tak terhinggadalam pelaksanaan Skripsi ini;8. Seluruh sahabat-sahabat penulis yang telahm emberikan saran, masukan,dukungan, perhatian, semangat dan doa kepada praktikan dalam pelaksanaan.Penulis menyadari bahwa Skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Olehkarena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun gunaperbaikan penulisan Skripsi ini.Medan,Agustus 2017PenulisIdo Rizky Harahap15.811.0094UNIVERSITAS MEDAN AREA

DAFTAR ISIABSTRAK . iABSTRACT . iiKATA PENGANTAR . iiiDAFTAR ISI .vDAFTAR TABEL . viiiDAFTAR GAMBAR . ixDAFTAR NOTASI . xBAB I PENDAHULUAN . 11.1 Latar Belakang . 11.2 Maksud dan Tujuan Penulisan .31.3 Perumusan Masalah . 3BAB II TINJAUAN PUSTAKA .52.1Umum .52.2Kebutuhan Air Irigasi .72.2.1 Evapotranspirasi .82.3Dasar-dasar Aliran Dalam Saluran .152.4Penampang Hidrolis Terbaik .192.3.1 Penampang Berbentuk Persegi yang ekonimis .192.3.2 Penampang Berbentuk Trapesium yang ekonimis .212.5Siphon .22UNIVERSITAS MEDAN AREA

2.5.1 Kehilangan Tinggi Energi .25BAB III METODOLOGI PENELITIAN .323.1Deskripsi Lokasi Penelitian .323.2Metode Pengumpulan Data . 333.3Data Proyek . 343.4Bagan Alir Perhitungan Bangunan Siphon .46BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN .474.1Perhitungan Disain Hidrolis siphon . 474.2Perhitungan Kehilangan Tinggi Muka Air .494.2.1 Pada Pintu Masuk .494.2.2 Pada Saluran Siphon .504.2.3 Pada Pintu Keluar .514.3Perhitungan Momen Untuk Tulangan Siphon .534.4.1 Koefisien Distribusi .544.4.2 Perhitungan,qa .564.4.3 Perhitungan,qb .564.4.4 Perhitungan Momen, Mo .574.4.5 Perhitungan cross siphon .594.4Penulangan Siphon .634.5.1 Plat Atas .634.5.2 Lantai Atas .654.5.3 Plat Bawah .674.5.4 Lantai Bawah .694.5.5 Dinding Tepi .71UNIVERSITAS MEDAN AREA

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .735.1Kesimpulan .735.2Saran .73DAFTAR PUSTAKA .74LAMPIRANUNIVERSITAS MEDAN AREA

DAFTAR TABELTabel 2.1 Koefisien Tanaman . 15Tabel 2.2 Karakteristik Saluran . 18Tabel 2.3 Harga-harga Kekasaran Strickler . 26Tabel 2.4 Koefisien Kehilangan Tinggi Energi .27Tabel 3.1 Data Curah Hujan Harian Maksimum Bulanan Stasiun Sinar Kasih.35Tabel 3.2 Data Curah Hujan Harian Maksimum Bulanan Stasiun Rambutan .36Tabel 3.3 Data Curah Hujan Harian Maksimum Bulanan Stasiun Pamela.37Tabel 3.4 Data Curah Hujan Harian Maksimum Bulanan Stasiun Marihat .37Tabel 3.5 Rata-rata Iklim Stasiun Belawan.38Tabel 3.6 Contoh Perhitungan Evapotranspirasi .39Tabel 3.7 Evapotranspirasi Metode Penman Modifikasi Singai Padang .41Tabel 3.8 Kebutuhan Air Selama Penyiapan Lahan .41Tabel 3.9 Perhitungan Curah Hujan Efektif .43Tabel 3.10 Analisa Kebutuhan Air Irigasi .44UNIVERSITAS MEDAN AREA

DAFTAR GAMBARGambar 2.1 Saluran Terbuka dan Tertutup . 16Gambar 2.2 Garis Kemiringan Hidrolis dan Energi . 16Gambar 2.3 Penampang Berbentuk Persegi . 20Gambar 2.4 Penampang Berbentuk trapesium . 21Gambar 2.5 Contoh Siphon . 23Gambar 2.6 Kisi-kisi Penyaring . 28Gambar 2.7 Peralihan Aliran Pada Bagian Siku . 29Gambar 3.1 Peta Lokasi D.I Bajayu, D.I Paya Lombang dan D.I Langau . 33Gambar 3.2 Bagan Alir Perencanaan Siphon .46Gambar 4.1 Potongan Memanjang Siphon .47Gambar 4.2 Potongan Melintang Siphon .48Gambar 4.3 Gaya Tanah Yang Bekerja Pada Siphon .55UNIVERSITAS MEDAN AREA

UNIVERSITAS MEDAN AREA

BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar Belakang MasalahGagalnya air masuk melalui pengambilan bebas bajayu yang berada di daerahaliran sungai (DAS) Padang, Tebing Tinggi merupakan salah satu masalah besar.Debit atau permukaan air sungai Padang hingga saat ini terus menyusut dalambeberapa bulan terakhir ini karena musim kemarau panjang. Lebih kurang 1300hektar areal pertanian di Desa Paya Lombang, Kuta Baru, Tebing Tinggi,Kabupaten Serdang Bedagai Sumatera Utara kekeringan. Kondisi padi kini sudahmulai rusak, bahkan tanah areal persawahan sudah kering dan retak-retak. Bilaterjadi musim kemarau berkelanjutan, ribuan hektar areal pertanian padi akanmengalami gagal panen. Disisi lain masyarakat Tebing Tinggi memilikiparadigma bahwa bendung di Paya Lombang merupakan penyebab utama naiknyamuka air sungai Padang sehingga bila debit air sungai Padang meningkat makabanjir di kota Tebing Tinggi tidak dapat dielakkan.Desain bendung D.I Bajayu ini mengakomodasi kepentingan irigasi ( D.IPaya Lombang 1558 Ha, D.I Langau 2000 Ha, dan D.I Bajayu 4000 Ha ) danpengendalian banjir kota Tebing Tinggi. Irigasi adalah usaha penyediaan danpengaturan air untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi airpermukaan, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi rawa. Semua proseskehidupan dan kejadian di dalam tanah yang merupakan tempat mediapertumbuhan tanaman hanya dapat terjadi apabila ada air. Proses-proses utamaUNIVERSITAS MEDAN AREA

yang menciptakan kesuburan tanah atau sebaliknya yang mendorong degredasitanah hanya dapat berlangsung apabila terdapat kehadiran air. Menurut AbdullahAngoedi dalam sejarah irigasi di Indonesia disebutkan bahwa dalam laporanpemerintah Belanda irigasi didefinisikan sebagai berikut : Secara teknismenyalurkan air melalui saluran-saluran pembawa ke tanah pertanian dan setelahair tersebut diambil manfaat sebesar-besarnya menyalurkannya ke saluran-saluranpembuangan terus ke sungai. Dengan demikian tujuan irigasi adalah mengalirkanair secara teratur sesuai kebutuhan tanaman pada saat persediaan tanah tidakmencukupi untuk mendukung pertumbuhan tanaman, sehingga tanaman bisatumbuh secara normal. Pemberian air irigasi yang efisien selain dipengaruhi olehtata cara aplikasi, juga ditentukan oleh kebutuhan air guna mencapai kondisi airtersedia yang dibutuhkan tanaman. Sistem irigasi di Indonesia yang umumnyabergantung kepada cara pengambilan air sungai dan dimaksudkan untuk mengairipersawahan dapat dibedakan menjadi irigasi pedesaan dan irigasi pemerintah.Pembedaan itu berdasarkan pengelolaannya. Sistem irigasi desa bersifat komunaldan tidak menerima bantuan dari Pemerintah Pusat. Pembangunan danpengelolaarr seluruh jaringan irigasi dilakukan sepenuhnya oleh masyarakat.Sedangkan sistem irigasi yang tergantung pada bantuan pemerintah dibagi kedalam tiga kategori: irigasi teknis semi teknis dan sederhana.Dengan maksud memenuhi kebutuhan air bagi pertanian dan pengendalianbanjir maka diperlukan berbagai prasarana penyedia dan sumber tangkapan air.Prasarana itu dapat berupa bangunan - bangunan dimulai dari bangunan hulu (induk ) sebagai pengambil air dari aliran air ( sungai ) sampai dengan bangunan –bangunan pada jaringan irigasi. Jaringan irigasi adalah satu kesatuan saluran danUNIVERSITAS MEDAN AREA2

bangunan yang diperlukan untuk penyediaan, pembagian, pemberian, penggunaandan pembuangan air irigasi ( PP No.20 tahun 2006 ). Jaringan irigasi dibagimenjadi jaringan utama dan jaringan tersier. Jaringan utama meliputi jaringanprimer yaitu bagian dari jaringan irigasi yang terdiri dari bangunan utama, saluraninduk, saluran pembuangannya, bangunan bagi, bangunan sadap, dan bangunanpelengkapnya. Tolak ukur keberhasilan pengelolaan jaringan irigasi adalahefesiensi dan efektifitas saluran pembawa air. Pada hilir bendung ini terdapatsaluran pembawa air yang melintasi sungai. Sehingga diperlukan bangunan siphonuntuk membawa air agar mampu mengairi areal sawah sesuai dengan yangdiharapkan.Oleh karena itu penulis memilih untuk melakukan penelitian yang diarahkankepada permasalahan yang berjudul : Evaluasi Perencanaan Bangunan SiphonPada Proyek Pembangunan Bendung Sei Padang Kab. Serdang BedagaiSumatera Utara.1.2 Maksud dan Tujuan PenelitianAdapun maksud dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi perhitunganperencanaan bangunan Siphon pada proyek pembangunan bendung Sei Padang.Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitassaluran pembawa air agar mampu mengairi areal sawah sesuai dengan yangdiharapkan.UNIVERSITAS MEDAN AREA3

1.3 Perumusan MasalahBerdasarkan uraian pada latar belakang masalah dapat diidentifikasikanbeberapa masalah yang muncul dalam perencanaan bangunan pelengkap danbangunan bagi antara lain :1.Bagaimanakah analisa perhitungan bangunan Siphon?2.Apakah bangunan Siphon dapat mencapai keefektifan jaringan irigasi?Seberapa besarkah pengaruh bangunan Siphon dalam keberhasilan jaringanirigasi?UNIVERSITAS MEDAN AREA4

BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1 UmumArti irigasi pada umumnya adalah usaha mendatangkan air dengan membuatbangunan-bangunan dan saluran-saluran untuk mengalirkan air guna keperluanpertanian, membagi-bagikan air kesawah-sawah atau lading-lading dengan carayang teratur dan membuang air yang tidak diperlukan lagi ke sungai setelah airdigunakan sebaik-baiknya. Air merupakan faktor yang penting dalam bercocoktanam. Selain jenis tanaman, kebutuhan air bagi suatu tanaman juga dipengaruhioleh sifat dan jenis tanah, keadaan iklim, kesuburan tanah, cara bercocok tanam,luas areal pertanaman, topografi, periode tumbuh dan sebagainya. Cara pemakaianair tergantung dari keadaan irigasi, tanah, tanaman yang diairi dan sebagainya.Cara pemakaian air dapat dibedakan menjadi yaitu merendam tanah,merembeskan air pengaliran dan pengeringan, pembasahan dalam tanah,menyirami dan menyemprot). Merendam tanah dengan pembaruan air lazimdigunakan dalam penanaman padi. (Prof. R.Drs. Erman Mawardi, 2007:5).Jaringan irigasi adalah saluran, bangunan dan bangunan selengkapnya yangmerupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan, pembagian,pemberian, penggunaan, dan pembuangan air irigasi (PP No.20 Tahun 2006).Jaringan irigasi dibagi menjadi jaringan utama, jaringan sekunder danjaringan tersier. Jaringan utama meliputi jaringan primer yaitu bagian darijaringan irigasi yang terdiri dari bangunan utama, saluran induk, saluranpembuangannya, bangunan bagi, dan bangunan pelengkapnya. jaringan sekunderUNIVERSITAS MEDAN AREA

yaitu bagian dari jaringan irigasi yang terdiri dari saluran sekunder, saluranpembuangannya, bangunan bagi dan bangunan pelengkapnya. Sedangkan jaringantersier terdiri dari jaringan irigasi tersier yaitu jaringan irigasi yang berfungsisebagai prasarana pelayanan air irigasi dalam petak tersier yang terdiri darisaluran tersier, saluran kuarter, serta bangunan pelengkapnya.Sistem irigasi di Indonesia yang umumnya bergantung kepada carapengambilan air sungai dan dimaksudkan untuk mengairi persawahan dapatdibedakan menjadi irigasi pedesaan dan irigasi pemerintah. Pembedaan ituberdasarkan pengelolalaanny. Sistem irigasi desa bersifat komunal dan tidakmenerima bantuan dari pemerintah pusat. Pembangunan dan pengelolaannyaseluruh jaringan irigasi dilakukan sepenuhnya oleh masyarakat. Sedangkan sistemirigasi yang tergantung pada bantuan pemerintah dibagi kedalam tiga kategori,yaitu irigasi teknis, irigasi semi teknis dan irigasi sederhana.Bangunan irigasi dalam jaringan teknis mulai dari awal sampai akhir untukpengambilan/penyadapan, pengukuran dan pembagian air dan yang kedua yaitubangunan pelengkap untuk mengatasi halangan/rintangan sepanjang saluran danbangunan lain. Keberadaan bangunan irigasi diperlukan untuk menunjangpengambilan dan pengaturan air irigasi. Beberapa jenis bangunan irigasi yangsering dijumpai dalam praktek irigasi antara lain :1.Bangunan utama;2.Bangunan pembawa;3.Bangunan bagi;4.Bangunan sadap;UNIVERSITAS MEDAN AREA6

5.Bangunan pembuang dan penguras;6.Bangunan pelengkap.Dalam hal ini yang akan dibahas adalah perhitungan perencanaan bangunanSiphon pada jaringan irgasi.2.2 Kebutuhan Air IrigasiKebutuhan air irigasi adalah jumlah volume air yang diperlukan untukmemenuhi kebutuhan evapotranspirasi, kehilangan air, kebutuhan air untuktanaman dengan memperhatikan jumlah air yang diberikan oleh alam melaluihujan dan kontribusi air tanah.Faktor- faktor yang mempengaruhi besarnyaair yang perlu disediakan dengansistem irigasi adalah:1. Curah hujan;2. Kontribusi air tanah;3. Evapotranspirasi;4. Perkolasi.Tanaman membutuhkan air agar dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik.Air tersebut dapat berasal dari air hujan, kontribusi air tanah dan air nadalahberupaEvapotranspirasi dan Perkolasi.Apabila jumlah air yang diperoleh dari curah hujan dan kontribusi air tanahtidak mencukupi kebutuhan air yang diperlukan tanaman selama masapertumbuhannya maka penyediaan dengan sistem irigasi diperlukan sebagaialternatif penanggulangannya. Air yang dibutuhkan oleh tanaman dapatUNIVERSITAS MEDAN AREA7

sepenuhnya atau sebagian didapatkan dari curah hujan. Curah hujan untuk setiapperiode atau dari tahun ke tahun berubah-ubah sehingga disarankan untukmenggunakan curah hujan rencana misalnya dengan probabilitas 70% atau 85%dari pada menggunakan curah hujan rata-rata. Apabila ada kemungkinanterjadinya produksi tanaman yang nyata selama musim kemarau, misalnya padasaat tanaman sangat sensitip dengan kurangnya air maka probabilitas dapatdinaikkan menjadi 90%.Untuk irigasi padi curah hujan efektif bulanan diambil 70% dari curah hujanminimum tengah bulanan.(2.1)Dimana:Re curah hujan efektifR(setengah bulan) curah hujan minimum tengah bulanan2.2.1 EvapotranspirasiEvapotranspirasi adalah faktor dasar untuk menentukan kebutuhan air dalamrencana irigasi dan merupakan proses yang penting dalam siklus hidrologi(Sosrodarsono, 1976: 60). Satuan daripada evapotranspirasi pada umumnyadinyatakan dalam mm/hari atau mm/masa pertumbuhan.1 mm/hari 10.000 liter/ha.hari 1 liter/m2.hari 10 m3/ha.hari 0,11574074 liter/detik.hariUNIVERSITAS MEDAN AREA8

Evapotranspirasi sering disebut sebagai kebutuhan konsumtif tanaman yangmerupakan jumlah air untuk evaporasi dari permukaan areal tanaman dengan airuntuk transpirasi dari tubuh tanaman. Proses transpirasi dan evaporasi daripermukaan tanah yang terjadi secara bersamaan sering disebut evapotranspirasi.Mengingat faktor yang mempengaruhi evapotranspirasi sangat kompleks, makanilainya sulit ditentukan secara teliti. Oleh karena evapotranspirasi merupakanfaktor dasar untuk menentukan kebutuhan air irigasi dan merupakan proses yangpenting dalam siklus hidrologi, di saat ini telah banyak ditemukan metodependekatannya baik secara matematis maupun pengukuran langsung. Dariberbagai metode analisis yang ada, metode Penman Modifikasi memberikankeluaran yang cukup akurat mengingat dalam analisisnya cukup h.Perhitunganevapotranspirasi dilakukan dengan Metode Penmann Modifikasi FAO dimanadata yang diperlukan adalah suhu/temperatur udara, kelembaban relatif, kecepatanangin dan lamanya penyinaran tdihitungdenganmenggunakan metode Penman modifikasi yang telah disesuiakan dengan keadaandaerah Indonesia (Suhardjono, 1994:54) dengan rumus sebagai berikut:Eto c[ W. Rn (1 – W ). f (u). (ea – ed).(2.2)Dimana:Eto evapotranspirasi acuan (mm/hari)w faktor koreksi terhadap temperaturRn radiasi netto (mm/hari)F(u) fungsi anginUNIVERSITAS MEDAN AREA9

(ea-ed) perbedaan antara tekanan udara uap air lembab pada temperatur udararata-rata dan tekanan uap air aktual rata-rata (mbar)C angka koreksi Penman.Uraian tentang metode perhitungan variabel-variabel yang digunakan dalammetode Penman:1. Tekanan uap air (ea-ed)Kelembababan relatif udara rata-rata udara mempengaruhi Eto. Dalam hal inidinyatakan dalam bentuk tekanan uap air (ea-ed) yaitu perbedaan dari tekanan uapair lembab rata-rata (ea) dan tekanan uap air aktual rata-rata (ed).Formula-formula yang digunakan;a. Tekanan uap air basah (ea)Tekanan uap air basah (ea) adalah kemungkinan tekanan uap air maksimumuntuk temperatur udara.ea 33,8639 {(0,00738.T 0,8072)8 – 0,000019 (1,8.T 48) 0,001316} mbar .(2.3)Dimana:T temperatur udara dalam Cb.Tekanan uap air aktual (ed)Tekanan uap air aktual (ed) adalah tekanan yang disebabkan oleh tekanan uap airdiudara.ed ea . Rh mbar . .(2.4)Dimana:UNIVERSITAS MEDAN AREA10

Rh kelembaban relatif rata-rata adalah jumlah uap air sebenarnya yang ada padaudara relatif terhadap jumlah uap udara pada saat dimana udara dalam keadaanlembab (saturated) pada temperatur yang sama (dinyatakan dalam %).2. Fungsi Angin (F(u))Fungsi angin dapat didefinisikan sebagai berikut:F(u) 0,27 ( 1 U/100).(2.5)Dimana:U kecepatan angin berhembus dalam 24 jam (km/hari) pada ketinggian 2 m3. Faktor Koreksi (1-w)(1-w) merupakan faktor koreksi daripada pengaruh angin dan kadar lengasterhadap ET0. Besar (1-w) sehubungan dengan temperatur dan ketinggian dapatdihitung dengan rumus: δ/(δ β).(2.6)wDimana:β konstanta psychrometric (0,386 Pa)/L mbar/ºCL latent heat 595-0,51t cal/ ºCPa tekanan atmosfir 1013-0,1055.E (E elevasi permukaan laut)δ sudut dari kurva hubungan antara tekanan uap air dan temperatur 2 x (0,00738 t 0,8072)7-0,00116 mbar .(2.9)Dimana;t temperatur udara dalam ºCUNIVERSITAS MEDAN AREA11

(Tmax Tmin)/24. Radiasi Netto (Rn)Radiasi netto adalah perbedaan antara semua radiasi yang masuk dan radiasiyang kedua dari permukaan bumi. Untuk menghitung Rn maka ada beberapalangkah perhitungan yang diperoleh yaitu sebagai berikut:Rn ( Rns – Rnl )mm/hari.(2.7)Dimana:Rns solar radiasi netto (1 –a) Rs mm/hari koefisien pantul permukaan bumi dalam pecahanRs solar radiasi gelombang pendek (shortweve) (a b n/N) Ra.(Augstuom)Secara umum ;Rs (0.25 0.5 n/N) Ra .(2.8)Dimana:n lamanya penyinaran matahari/hariN kemungkinan penyinaran matahari maksimumRa total radiasi yang diterima pada lapisan atas atmosfirradiasi gelombang panjang netto (Rnl)menurut hukum Stefen-Boltzmanadalah T4 dimana T tempratur absolut dalam derajat kelvin dan konstanta radiasi yang diperkenalkan oleh Stefen-Boltzman.sehingga radiasi gelombang panjang netto dapat dituliskan sebagaiberikut:Rnl C ( T4) (0.34 – 0.044 ed) (0.1 0.9 n/N).(2.9)UNIVERSITAS MEDAN AREA12

5. Kebutuhan air untuk penyiapan lahanPada umumnya jumlah air yang dibutuhkan untuk penyiapan lahan dapatditentukan berdasarkan kedalaman serta porositas tanah disawah. Rumus berikutdipakai untuk memperkirakan kebutuhan air untuk lahan.PWR Pd Fl.(2.10)Dimana: kebutuhan air untuk penyiapan lahan (mm)PWRSa (%) derajat kejenuhan tanah setelah penyiapan lahan dimulaiSb (%) derajat kejenuhan tanah sebelum penyiapan lahan dimulaiN porositas tanah dalam (%) pada harga rata-rata untukkedalamantanahD asumsi kedalaman tanah setelah pekerjaan penyiapan lahan (mm)Pd kedalaman genangan setelah pekerjaan penyiapan lahan (mm)Fl kehilangan air disawah selama 1 hari (mm)6. Kebutuhan air selama penyiapn lahanUntuk perhitungan kebutuhan irigasi selama penyiapan lahan, digunakanmetode yang dikembangkan oleh Van de Goor dan Zilystra (1968). Metodetersebut didasarkan pada laju air konstan dalam lt/dt selama periode penyiapanlahan dan menghasilkan rumus sebagai berikut:IR M ek/(ek – 1).(2.11)Dimana:IR kebutuhan air irigasi ditingkat persawahan (mm/hari)M kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air akibatUNIVERSITAS MEDAN AREAevaporasi dan13

perkolasi disawah yang sudah dijenuhkanEoM Eo P (mm/hari) evaporasi air terbuka yang diambil 1,1 Eto selama penyiapan lahan(mm/hari)P perkolasiK MT/ST jangka waktu penyiapan lahan (hari)S kebutuhan air, untuk penjenuhan ditambah dengan lapisan air 50, yakni200 50 250 mm7. Penggunaan KonsumtifPenggunaan konsumtif adalah jumlah air yang dipakai oleh tanaman untukproses fotosintesis dari tanaman tersebut.Penggunaan konsumtif dihitung dengan rumus berikut:Etc c x Eto.(2.12)Dimana:ETc evapotranspirasi tanaman (mm/hari);ETo evapotranspirasi tanaman acuan (mm/hari);c koefisien tanaman.UNIVERSITAS MEDAN AREA14

Tabel 4.4 Koefisien TanamanPeriodePadiPalawijaTengah BulananBiasaUnggulKedelaiKacang 50,950,457.0,958.0,00Sumber: Standar Perencanaan Irigasi, Perencanaan Jaringan Irigasi KP - 0 1, 19862.3 Dasar-Dasar Aliran Dalam SaluranAliran air dalam suatu saluran dapat berupa Aliran saluran terbuka (openchannel flow) dan aliran saluran tertutup (pipe flow). Keduanya dalam beberapahal adalah sama, perbedaannya yaitu aliran pada saluran terbuka harus memilikipermukaan bebas yang dipengaruhi tekanan udara bebas, sedangkan aliran padapipa tidak dipengaruhi oleh tekanan udara secara langsung kecuali oleh tekananhidrolik.UNIVERSITAS MEDAN AREA15

Gambar 2.1 Saluran Terbuka dan Tertutupsumber: Ichwan Ridwan.2005. Aliran Seragam Pada Saluran Terbuka Teori dan PenyelesaianSoal-Soal. Jurnal e-Repository USU (online), diakses 1 Mei 2017.Saluran dapat dapat berbentuk alami (sungai, paluh dan muara) denganpenampang melintang atau kemiringan memanjang berubah-ubah (v

EVALUASI PERENCANAAN BANGUNAN SIPHON . PADA BENDUNG SEI PADANG KAB.SERDANG BEDAGAI SUMATERA UTARA . SKRIPSI