Transcription

Tugas Akhir – RG141536PENENTUAN HABITAT IKAN DEMERSALBERDASARKAN RENTANG KEDALAMAN DANJENIS SEDIMEN MENGGUNAKAN DATAMULTIBEAM ECHOSOUNDERDimas Rizqi DwiajiNRP 03311440000062Dosen PembimbingPENENTUAN HABITAT IKAN DEMERSALDanar Guruh Pratomo, ST., MT., Ph.DBERDASARKANKhomsin, ST., MT. RENTANG KEDALAMAN DAN JENISMENGGUNAKANDATA MULTIBEAMDwiSEDIMENHaryanto, ST.,MT.ECHOSOUNDERDEPARTEMEN TEKNIK GEOMATIKAFakultas Teknil Sipil, Lingkungan, dan KebumianiInstitut Teknologi Sepuluh NopemberSurabaya 2018PENENTUAN HABITAT IKAN DEMERSALKEDALAMAN DAN JENISBERDASARKANDimasRizqi Dwiaji RENTANGNRP 03311440000062

“Halaman ini sengaja dikosongkan”“Halaman ini sengaja dikosongkan”“Halaman ini sengaja dikosongkan”“Halaman ini sengaja dikosongkan”ii

Tugas Akhir – RG141536PENENTUAN HABITAT IKAN DEMERSALBERDASARKAN RENTANG KEDALAMAN DANJENIS SEDIMEN MENGGUNAKAN DATAMULTIBEAM ECHOSOUNDERDimas Rizqi DwiajiNRP 03311440000062DosenPembimbingTugas Akhir– RG141536Danar Guruh Pratomo, ST., MT., Ph.DKhomsin,ST., MT.PENENTUANHABITAT IKAN DEMERSALDwi Haryanto, ST., MT.BERDASARKAN RENTANG KEDALAMAN DAN JENISSEDIMENMENGGUNAKANDATA tas Teknil Sipil, Lingkungan, dan KebumianiiiInstitut Teknologi Sepuluh NopemberSurabaya 2018DimasRizqi DwiajiTugas Akhir– RG141536NRP 03311440000062

“Halaman ini sengaja dikosongkan”“Halaman ini sengaja dikosongkan”“Halaman ini sengaja dikosongkan”“Halaman ini sengaja dikosongkan”iv

Final Assignment – RG141536DEMERSAL FISHES HABITAT DETERMINATIONBASED ON DEPTH AND SEDIMENT TYPES USINGMULTIBEAM ECHOSOUNDER DATAFinal AssignmentDimasRizqi Dwiaji– RG141536NRP 03311440000062DEMERSAL FISHES HABITAT DETERMINATIONSupervisorBASED ON DEPTH AND SEDIMENT TYPES USINGDanar Guruh Pratomo, ST., MT., Ph.DMULTIBEAMKhomsin,ST., MT.ECHOSOUNDERDwi Haryanto, ST., MT.GEOMATICSENGINEERINGDEPARTMENTFinal Assignment– RG141536Faculty of Civil, Environmental, and Geo EngineeringvInstitut Teknologi Sepuluh NopemberDEMERSALFISHESHABITATDETERMINATIONSurabaya 2018BASED ON DEPTH AND SEDIMENT TYPES USINGMULTIBEAMECHOSOUNDERDimasRizqi DwiajiNRP 03311440000062

“Halaman ini sengaja dikosongkan”“Halaman ini sengaja dikosongkan”“Halaman ini sengaja dikosongkan”“Halaman ini sengaja dikosongkan”vi

PENENTUAN HABITAT IKAN DEMERSALBERDASARKAN RENTANG KEDALAMAN DANJENIS SEDIMEN MENGGUNAKAN DATAMULTIBEAM ECHOSOUNDERNamaNRPDepartemenDosen Pembimbing: Dimas Rizqi Dwaiji: 03311440000062: Teknik Geomatika FTSLK-ITS: Danar Guruh Pratomo, ST., MT., Ph.DKhomsin, ST., MT.Dwi Haryanto, ST. MT.,AbstrakPotensi perikanan di Indonesia terdiri dari beberapa jenis,umumnya berupa ikan karang, pelagis besar dan kecil, lobster,udang, dan demersal. Salah satu cara mengoptimalisasi potensijenis-jenis potensi perikanan tersebut adalah dengan mencarihabitat ikan. Habitat ikan ini selanjutnya dapat digunakan sebagaidaerah penangkapan ikan. Pada penelitian kali ini, habitat ikandemersal dicari berdasarkan preferensi ikan demersal. Adapaunjenis-jenis ikan demersal yang dicari habitatnya adalah ikan Petek,Beloso, Peperek, Kakap Merah, Kurisi, Kakap Putih, Lencam, danKuwe. Berdasarkan preferensi ikan demersal yang hidup di dasarlaut dengan jenis sedimen tertentu, pendekatan secara akustikdigunakan untuk menentukan kedalaman dan jenis sedimen yangmenjadi preferensi beberapa jenis ikan demersal. Instrumenakustik yang digunakan pada penelitian kali ini adalah instrumentMultibeam Echosounder (MBES). Data yang digunakan dari MBESadalah data batimetri dan hambur balik (backscatter strength). Databatimetri digunakan untuk mendapat nilai kedalaman dari lokasipenelitian, sedangkan data hambur balik diolah sehinggamenghasilkan mosaik hambur balik dan angular response curve.vii

Angular response curve selanjutnya digunakan untuk klasifikasijenis sedimen pada mosaik hambur balik, sehingga didapat jenissedimen di area penelitian berupa lanau, lanau berpasir, pasirberlanau, dan pasir. Dilakukan pengirisan (intersection) dari datakedalaman dan persebaran sedimen berdasarkan preferensikedalaman dan jenis sedimen ikan-ikan demersal. Area hasil irisanmenunjukkan bahwa ikan Lutjanus campechanus (Kakap merah)memiliki habitat paling luas, yaitu 905.221,356 m2, sedangkanLates calcarifer (Kakap putih) sebaliknya, yaitu 105.317,213 m2.Kata kunci : Habitat, ikan demersal, hambur balik, batimetriviii

DEMERSAL FISHES HABITAT DETERMINATIONBASED ON DEPTH AND SEDIMENT TYPES USINGMULTIBEAM ECHOSOUNDER DATANameNRPDepartmentSupervisor: Dimas Rizqi Dwaiji: 03311440000062: Teknik Geomatika FTSLK-ITS: Danar Guruh Pratomo, ST., MT., Ph.DKhomsin, ST., MT.Dwi Haryanto, ST., MT.AbstractIndonesia’s fisheries potential consists of reefs, pelagic, lobster,shrimp, and demersal fishes. To optimize this potential, the habitatof these fish can be mapped. The result of demersal fish habitatmapping can be used as fishing ground. This research aims to mapdemersal fish habitat based on its preferences. In this research,Splendid ponyfish, Brushtooth lizardfish, Ponyfish, Red snapper,Japanese threadfin bream, Barramundi, Sprangled emperor fishes,and Giant travelly are demersal fish that are sought after. Sincedemersal fish live near seafloor with certain sediment types,acoustic approach is used to map seafloor depth and sediment typesthat match demersal fishes’s preferences. Acoustic instrument usedin this research is Multibeam Echosounder (MBES). There are 2MBES data used in this research, bathymetry and backscatterstrength. Bathymetric data is used to analyze seafloor depth, whilebackscatter strength data is used to create backscatter strengthmosaic and Angular Response Curve. Angular response curve isused to classify sediment types on backscatter mosaic, creatingsediment distribution map. Based on sediment classification result,it is known that research site has 4 types of sediment, such as silt,sandy silt, silty sand, and sand. Then, fish habitat is mapped byix

intersecting seafloor depth and sediment types according todemersal fishes’s preferences. The intersecting result shows thatLutjanus campechanus (Red snapper) has the largest habitat(905,221.356 m2), while Lates calcarifer (Barramundi/sea bass)shows the opposite (105,317.213 m2).Key word : Habitat, demersal fish, bathymetry, backscatterstrengthx

HALAMAN PENGESAHANPENENTUAN HABITAT IKAN DEMERSALBERDASARKAN RENTANG KEDALAMAN DAN JENISSEDIMEN MENGGUNAKAN DATA MULTIBEAMECHOSOUNDERTUGAS AKHIRDiajukan Untuk Memenuhi Salah Satu SyaratMemperoleh Gelar Sarjana TeknikpadaProgram Studi S-1 Teknik GeomatikaFakultas Teknik Sipil, Lingkungan, dan KebumianOleh :DIMAS RIZQI DWIAJINRP.03311440000062Disetujui oleh Pembimbing Tugas Akhir :1. Danar Guruh Pratomo, ST, MT, Ph.DNIP. 19800507 200312 1 001( . )2. Khomsin, ST, MT.NIP. 19750705 200012 1 001( . )3. Dwi Haryanto, ST, MT.NIP. 19800825 200901 1 003( . )SURABAYA, JULI 2018xi

“Halaman ini sengaja dikosongkan”xii

KATA PENGANTARPuji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT sebagaiTuhan Yang Maha Kuasa, karena atas rahmat dan karunia-Nya,tugas akhir dengan judul “Penentuan Habitat Ikan DemersalBerdasarkan Rentang Kedalaman dan Jenis SedimenMenggunakan Data Multibeam Echosounder” dapat terselesaikandengan baik.Selama pelaksanaan penelitian tugas akhir ini, penulismendapat berbagai bantuan dan motivasi, baik moral ataupunmaterial. Maka dari itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:1. Orang tua dan keluarga besar atas doa, perhatian, dandukungannya.2. Bapak M. Nur Cahyadi, ST, M.Sc, Ph.D selaku KepalaDepartemen Teknik Geomatika ITS.3. Bapak Danar Guruh Pratomo, ST, MT, Ph.D dan BapakKhomsin, ST, MT. selaku dosen pembimbing dari ITS,serta Bapak Dwi Haryanto, ST, MT. selaku pembimbingdari BPPT.4. Balai Teknologi Survei Kelautan sebagai unit kerja dariBalai Pengkajian dan Penerapan Teknologi atas bantuanpenyediaan data.5. Tim pengembang software MB-Systems atas bantuanteknis terkait penggunaan MB-Systems.6. Teman-teman pelaksana tugas akhir bidang keahlianGeomarin yang menemani, memberi dukungan, danmemberi saran pada penulis.7. Teman-teman mahasiswa Teknik Geomatika ITSangkatan 2014, 2013, dan 2012 atas bantuannya.8. Pihak-pihak lain yang membantu penulis dalamberbagai hal yang tidak dapat disebut satu persatu.xiii

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan tugasakhir ini masih memiliki berbagai kekurangan. Maka dari itu,penulis berharap kritik dan saran yang membangun agar tugasakhir penulis bermanfaat.Surabaya, Juli 2018Penulisxiv

DAFTAR ISIHALAMAN JUDUL .iiiABSTRAK .viiHALAMAN PENGESAHAN . xiKATA PENGANTAR.xiiiDAFTAR ISI . xvDAFTAR GAMBAR .xviiDAFTAR TABEL . xixBAB I PENDAHULUAN . 11.1. Latar Belakang . 11.2. Rumusan Permasalahan . 41.3. Batasan Masalah . 41.4. Tujuan Tugas Akhir . 4BAB II TINJAUAN PUSTAKA . 52.1. Ikan Demersal . 52.2. Daerah Penangkapan Ikan dan Habitat Ikan . 82.3. Aplikasi Multibeam Echosounder. 102.4. Penentuan Nilai Kedalaman Dasar LautMenggunakan Data Batimetri . 132.5. Penentuan Jenis Sedimen Menggunakan DataBackscatter. 182.6.Uji Korelasi . 252.7. ELAC SeaBeam 1050 . 252.8. Penelitian Terdahulu . 28xv

BAB III METODOLOGI . 313.1. Lokasi Penelitian. 313.2. Data dan Peralatan . 313.3. Metodologi Penelitan . 32BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN . 414.1. Hambur Balik dan Klasifikasi Sedimen . 414.1.1. Mosaik Hambur Balik . 414.1.2. Angular Response Curve . 464.1.3. Klasifikasi Jenis Sedimen . 524.1.4. Uji Korelasi. 544.2. Batimetri . 564.3. Penentuan Habitat Ikan . 64BAB V KESIMPULAN DAN SARAN . 755.1. Kesimpulan . 755.1. Saran . 75DAFTAR PUSTAKA. 77LAMPIRAN . 82BIOGRAFI PENULIS . 86xvi

DAFTAR GAMBARGambar 2. 1 Peta Daerah Penangkapan Ikan . 9Gambar 2. 2 Area Sapuan MBES . 11Gambar 2. 3 Data Batimetri. . 12Gambar 2. 4 Kumpulan Ikan dideteksi Menggunakan DataKolom Air . 13Gambar 2. 5 Jenis Interaksi Gelombang Akustik dengan DasarLaut. . 19Gambar 2. 6 Pembagian domain pada ARC . 23Gambar 2. 7 Angular Response Curve . 24Gambar 2. 8 Perbedaan Intensitas Backscatter StrengthSedimen Halus dan Kasar . 24Gambar 2. 9 Backscatter Mosaic . 25Gambar 2.10 ELAC SeaBeam 1050. 28Gambar 2.11 Pola Perilaku Ikan Pemangsa dan Zooplankton . 29Gambar 3. 1 Lokasi penelitian . 31Gambar 3. 2 Diagram Alir Tahapan Penelitian . 33Gambar 3. 3 Diagram Alir Pengolahan Data. 36Gambar 4. 1 Raw mosaic hambur balik (a), perbesaranpersebaran nilai hambur balik di nadirdengan intensitas rendah (b), dan area dengannilai hambur balik rendah (c) . 43Gambar 4. 2 Mosaik hambur balik yang sudah diolah. . 44Gambar 4. 3 Artefak hambur balik. . 46Gambar 4. 4 Area pembuatan ARC. . 47Gambar 4. 5 Angular response curve . 51Gambar 4. 6 Tipikal ARC berbagai jenis sedimen . 51Gambar 4. 7 Hasil klasifikasi sedimen. . 53Gambar 4. 8 Grafik korelasi ukuran butiran sedimen dengannilai hambur balik. . 56Gambar 4. 9 Proses pengaturan kecepatan suara di MB-Systems 57xvii

Gambar 4.10 Proses penghapusan spike. 60Gambar 4.11 Tampilan batimetri lokasi penelitian . 62Gambar 4.12 Habitat ikan Petek. 65Gambar 4.13 Habitat ikan Beloso . 66Gambar 4.14 Habitat ikan Peperek. 67Gambar 4.15 Habitat ikan Kakap merah . 68Gambar 4.16 Habitat ikan Kurisi . 69Gambar 4.17 Habitat Kakap putih . 70Gambar 4.18 Habitat ikan Lencam. 71Gambar 4.19 Habitat ikan Kuwe . 72Gambar 4.20 Habitat ikan demersal area studi kasus . 73xviii

DAFTAR TABELTabel 2.1 Preferensi Ikan Demersal . 7Tabel 2. 2 Standar Minimum Survey Hidrografi. 16Tabel 2. 3 Kategori Kekuatan Kubungan Antar Variabel . 26Tabel 2. 4 Spesifikasi ELAC SeaBeam 1050 . 27Tabel 4. 1 Grazing angle terhadap hambur balik area sampel . 48Tabel 4. 2 Tabel ukuran butiran sedimen . 54Tabel 4. 3 Sampel hasil perhitungan ketelitian . 64Tabel 4. 4 Luas habitat ikan demersal . 72xix

BAB IPENDAHULUAN1.1.Latar BelakangSalah satu potensi maritim di Indonesia adalahsumber daya perikanan. Berdasarkan data dari KeputusanMenteri Kelautan dan Perikanan No. 47 Tahun 2016,diestimasi nilai potensi sumber daya ikan di seluruh WilayahPengelolaan Perikanan (WPP) Republik Indonesia mencapai9.931.920 ton per tahun. Potensi sumber daya ikan bernilaiekonomi tinggi tersebut terbagi menjadi beberapa jenissumber daya, salah satunya adalah ikan demersal.Ikan demersal adalah ikan yang hidup di dasar laut(Haedrich 1996) dan jenis sedimen dasar laut tertentu(Walrond 2006). Dikarenakan preferensi untuk hidup didasar laut tersebut, ikan demersal sulit dideteksi daerahpenangkapan ikannya, sedangkan ikan pelagis yang hidup didekat permukaan laut cenderung lebih mudah ditentukandaerah penangkan ikannya dengan aplikasi penginderaanjauh (Putra, Gaol dan Siregar 2016). Maka, penentuandaerah penangkapan ikan demersal membutuhkanpendekatan tertentu, yaitu dalam penelitian ini dilakukandengan mencari habitat ikan demersal sebagai daerahpenangkapan ikan tersebut. Salah satu pendekatan tersebutadalah pendekatan akustik. Dengan pendekatan akustik,nilai hambur balik dari dasar laut, kolom air, dan kedalamandasar laut dianalisis untuk menentukan jenis sedimensebagai habitat ikan demersal.Pemetaan dasar laut menggunakan pendekatanakustik telah dikembangkan dalam waktu yang lama, salahsatunya adalah pengembangan swath bathymetry danbackscatter strength. Hasil pengolahan swath bathymetrymenghasilkan nilai kedalaman dasar laut, sedangkanbackscatter strength menghasilkan nilai intensitas hamburbalik dasar laut. Habitat ikan demersal berdasarkan1

2preferensinya terhadap kedalaman dan jenis sedimen dapatdiketahui dengan menganalisis nilai kedalaman danintensitas hambur balik dasar laut tersebut(Falco dkk. 2010).Kedua parameter tersebut dapat menentukan habitat ikandemersal karena habitat itu sendiri adalah lingkungan yangdihuni oleh satu atau lebih organisme dikarenakan preferensidari organisme-organisme tersebut terhadap faktor fisika,kimiawi, dan biologis lingkungan habitat tersebutdibandingkan lingkungan lain (Brown dan Blondel 2009).Metode penentuan habitat dasar laut dari ikandemersal mempunyai perbedaan dengan habitat ikan pelagisyang berada di dekat permukaan laut. Habitat ikan pelagisdapat ditentukan menggunakan metode penginderaan jauhsecara optis yang menentukan habitat organismemenggunakan faktor spektral dari pixel yang ada. Adapunhabitat ikan demersal pada dasar laut cenderung ditentukanmenggunakan analisis karakteristik morfologi 2 atau 3dimensi suatu area, ditambah dengan memperhitungkanfaktor parameter hidrografis area tersebut (Conway, Barriedan Krautter 2005), sehingga dibutuhkan data yang dapatmerepresentasikan morfologi dan karakteristik dasar lautsuatu area. Ada 2 jenis data yang memenuhi kriteria ini,yaitu data dari side scan sonar (SSS) dan data hambur balikdari multibeam echosounder (MBES).Pemetaan habitat ikan berdasarkan jenis sedimendasar laut harus mementingkan beberapa faktor, 2diantaranya adalah resolusi dan akurasi posisi. MBES danSSS mempunyai resolusi yang baik, dimana MBEStergantung pada frekuensi alat dan SSS tergantung pada jarakalat dengan dasar laut (bila bersistem towfish). Namun, padafaktor akurasi posisi, MBES lebih unggul, dikarenakansistemnya diam terhadap acuan posisi, yaitu InertialMeasurement Unit (IMU) dan GPS, sedangkan SSS belumtentu diam terhadap acuan posisi dikarenakan sistem towfish

3atau kabel meungkinkan terjadinya gerakan diluar gerakankapal sehingga untuk meningkatkan ketelitiannyadibutuhkan sistem terpisah (misal Ultra Short Baseline atauUSBL) yang menambah biaya operasional (Le Bas danHuvenne gan yang sudah disebutkan, maka penelitian kaliini mencoba menentukan habitat ikan demersalmenggunakan data batimetri dan hambur balik. Penelitiankali ini terletak di area yang masuk kedalam WilayahPengelolaan Perikanan Republik Indonesia(WPP-RI) 715.WPP-RI sendiri adalah wilayah pengelolaan perikananuntuk penangkapan ikan, pembudidayaan ikan, konservasi,penelitian, dan pengembangan perikanan yang meliputiperairan pedalaman, perairan kepulauan, laut teritorial, zonatambahan, dan zona ekonomi eksklusif Indonesia. PadaWPP-715, potensi ikan demersal mencapai 114.004 ton pertahun, namun pemanfaatan dari potensi ini baru mencapai0,51. Potensi perikanan di lokasi penelitian dapatditingkatkan dengan memetakan habitat ikan demersal,melalui parameter jenis sedimen dan kedalaman dasar laut,sebagaimana yang dicoba dilakukan pada penelitian kali ini.Penelitian dengan tujuan pemetaan habitat di lauttidak hanya menggunakan data MBES. Pada penelitian olehLe Bas dan Huvenne pada 2009, pemetaan dilakukan dengandata MBES dan SSS yang dibandingkan. Selain itu,penelitian serupa dilakukan oleh Horne pada 2000 untukmendeteksi persebaran ikan dengan resolusi tinggimenggunakan data kolom air (Colbo dkk. 2014). Perbedaanpenelitian kali ini dengan penelitian sebelumnya adalahmenentukan habitat ikan berdasarkan 2 variabel preferensiikan demersal, yaitu kedalaman dan jenis sedimen dasar laut.

41.2.Rumusan Permasalahan1.Berapa rentang nilai kedalaman dasar laut di lokasipenelitian ditinjau dari hasil pengolahan databatimetrinya?2.Bagaimana persebaran sedimen di lokasi penelitianditinjau dari hasil pengolahan data hambur baliknya?3.Bagaimana persebaran habitat ikan demersal di lokasipenelitian berdasarkan preferensi ikan demersalterhadap rentang kedalaman dan jenis sedimen dasarlaut?1.3.Batasan Masalah1.Studi kasus yang digunakan adalah lokasi X, ProvinsiSulawesi Utara. Detil lokasi tidak disebutkan karenaprivasi penyedia data.2.Parameter yang digunakan untuk menentukan habitatadalah jenis sedimen dan rentang kedalaman dasarlaut.3.Perangkat lunak yang digunakan untuk mengolah databatimetri dan backscatter adalah MB-System,sedangkan untuk pembuatan peta Persebaran SedimenDasar Laut, Batimetri, dan habitat Ikan Demersalmenggunakan ArcGIS 10.31.4.Tujuan Tugas Akhir1.Menganalisis rentang nilai kedalaman dasar laut dilokasi penelitian yang didapatkan dari hasilpengolahan data batimetri.2.Menganalisis persebaran sedimen di lokasi penelitiansebagai hasil pengolahan data hambur balik.3.Menganalisis habitat ikan demersal di lokasipenelitian berdasarkan preferensi ikan demersalterhadap rentang nilai kedalaman dan jenis sedimendasar laut.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1.Ikan DemersalIkan demersal adalah ikan yang hidup di dekat ataudasar laut dan atau danau (Bone dan Moore 2008). Padaumumnya ikan demersal hidup di jenis sedimen dasar lautberupa lumpur, pasir, kerikil, dan batuan (Walrond 2006).Ikan demersal merupakan ikan yag berbeda dengan ikanpelagis, dimana ikan pelagis merupakan ikan yang hidup dikolom air, yaitu lapisan air di atas dasar laut (Sabol dkk.2002).Ikan demersal terbagi menjadi 2 jenis, yaitu bentikdan bentopelagis. Ikan bentik adalah ikan yang hidup didasar laut, sedangkan bentopelagis dapat hidup di dekatpermukaan dasar laut. Ikan bentik dapat hidup di dasar y) yang netral, sedangkan bentopelagisbuoyancynya negatif atau massa jenisnya lebih tinggi. Ikanbentik, dengan kemampuannya untuk tinggal di bawah air,hidup dan mencari makan dengan cara menutup diri denganlapisan sedimen dasar laut (misal pasir) atau bergerak bebassecara aktif untuk mencari makan dan berbaring di dasar lautuntuk menipu mangsa (Fairchild dan Howell 2004)sedangkan ikan bentopelagis hidup di atas dasar laut denganmengonsumsi zooplankton (Mauchline 1986).Berdasarkan sifat-sifat dari ikan demersal, maka dapatdisimpulkan bahwa salah satu hal yang mempengaruhihabitat ikan demersal adalah morfologi dasar laut itu sendiri.Pada dasarnya, di perairan Indonesia dapat ditemukanseperti paparan (shelf), landas benua (continental slope),bentuk-bentuk cekungan yang dalam berupa basin danpalung (basin, abyssal, trench dan trough), bentuk-bentukelevasi berupa punggung-punggung (rise dan ridge,plateau), bentuk-bentuk karang (reefs), atol, beting (shoal)5

6dan gosong (banks) (Suman 2014). Pada penelitian kali ini,area dari studi kasus adalah di lokasi X, Provinsi SulawesiUtara.Lokasi penelitian ini termasuk dalam WilayahPengelolaan Perikanan 715 (WPP-715), yang jugamencakup wilayah Teluk Tomini, Laut Maluku, LautHalmahera, Laut Seram, dan Teluk Berau (Papua).Persebaran sumber daya ikan demersal di area ini berbedadari Wilayah Pengelolaan Perikanan(WPP) yang lain(Suman 2014). Ikan demersal yang dominan ditangkap diWPP-715 adalah ikan lencam sebanyak 7.531 ton, kuwesebanyak 3.646 ton, kakap putih 3.537 ton, dan kakap merah3.282 ton dalam 1 tahun. Potensi lestari di WPP-715 adalah121.300 ton/tahun, sedangkan jumlah tangkapan yangdiperbolehkan adalah 97.064 ton/tahun(80% dari potensilestari). Berdasarkan data Statistik Perikanan Tangkapdalam Suman (2014), diketahui bahwa dalam tahun 2011tingkat pemanfaatan penangkapan ikan baru mencapai 35%,yang berarti WPP-715 belum dieksploitasi penuh dan belumterjadi overfishing.Dari data-data ikan demersal yang umum ditangkap diWPP-715 dan di Indonesia pada umumnya, dicari datapreferensi habitat ikan-ikan tersebut dilihat dari kedalamandasar laut dan jenis sedimen dasar laut sebagaimanadinyatakan dalam Tabel 2.1.

7Preferensi Habitato22.098 - 29.28220.792 - 28.36526 - 3019.909 - 28.06318.854 - 26.72925.585 - 28.9541.324 - 28.34226.130 - 28.013Temperatur( C)Tabel 2.1 Preferensi Ikan Demersal (IUCN Red List of Threatened Species 2012)10-65Rentang Kedalaman (m)Leiognathus splendens (Petek)20-260Spesies IkanSaurida undosquamis (Beloso)5-8025-250Nemipterus japonicus (Kurisi)10-40Leiognathus equulus (Peperek)Lates calcarifer (Kakap Putih)10-7510-190Lethrinus nebulosus (Lencam)10-188Lutjanus campechanus (Kakakp Merah)Caranx ignobilis (Kuwe/Giant Trevally )Sedimen Dasar LautLumpurPasir BerlumpurLumpurLumpurPasirTanahBebatuan (Dewasa)Karang (Dewasa)Pasir (Remaja)Lumpur (Remaja)LumpurPasirPasirTerumbu KarangRumput Laut (Seagrass)PasirBebatuan (Pantai)PasirBebatuanKarang

82.2.Daerah Penangkapan Ikan dan Habitat IkanBerbagai jenis ikan di dunia hanya ditangkap dibeberapa area tertentu yang biasa disebut dengan daerahpenangkapan ikan (Borzone, Pezzuto dan Marone 1999).Hubungan antara faktor oseanografis dan meteorologisterhadap daerah penangkapan ikan atau fishing groundumumnya dipelajari, sehingga diketahui bahwa terdapatberbagai faktor yang mempengaruhi adanya daerahpenangkapan ikan, diantaranya adalah kedalaman(Demestre, Sanchez dan Abello 2000), ketersediaanmakanan, musim (Amri 2008), salinitas, temperatur, dansedimen (Borzone, Pezzuto dan Marone 1999). Selain itu,kondisi upwelling dan oceanic front juga mempengaruhidaerah penangkapan ikan tertentu.Adapun daerah penangkapan ikan dapat berbeda-bedasesuai dengan preferensi ikan tersebut. Pada kategori ikanpelagis misalnya, daerah penangkapan ikan dipengaruhidengan suhu permukaan laut, upwelling, dan oceanic front(Amri 2008). Hal ini dikarenakan bahwa faktor-faktortersebut menunjukkan ada atau tidaknya sumber makananbagi ikan pelagis, yaitu plankton. Ketiga faktor tersebutsaling terkait, dimana suhu permukaan laut tertentu danfenomena oceanic front mengindikasikan adanya upwellingyang membawa zat hara atau nutrien berupa plankton untukdikonsumsi oleh ikan pelagis tersebut.

9Gambar 2. 1 Peta Daerah Penangkapan Ikan (Balai Risetdan Observasi Laut 2018). Daerah penangkapan ikanditunjukkan dengan simbol ikan berwarna merah,sedangkan daerah potensi ikan dengan simbol ikanberwarna hitamSedangkan untuk ikan demersal yang hidup di dekatatau dasar laut, penentuan daerah penangkapan ikannyadidasarkan pada preferensi habitat ikan demersal tersebut,dimana beberapa faktor di antaranya adalah rentang

10kedalaman (Bone and Moore 2008), jenis sedimen dasar lautsebagai tempat hidupnya (Walrond 2006), temperatur, dansalinitas (Demestre, Sanchez dan Abello 2000). Hal-hal ini,yang nilainya dipengaruhi oleh faktor musim, mempunyaibeberapa efek terhadap persebaran ikan demersal, terutamapola-pola distribusinya selama siklus hidup ikan tersebut(Demestre, Sanchez dan Abello 2000). Hal ini direfleksikandengan ikan demersal pada umur remaja atau dalam umurberreproduksi spesies tertentu di jenis sedimen dasar lauttertentu di kedalaman tertentu.2.3.Aplikasi Multibeam EchosounderBerbeda dengan Single Beam Echosounder (SBES)yang hanya mentransmisi dan menerima satu sinyal akustik,MBES menerima banyak sinyal akustik sehinggamembentuk area sapuan/swath dengan sudut tertentusebagaimana pada Gambar 2.2. Hal ini menyebabkan MBESlebih cocok untuk mengamati ikan, dikarenakan apabilapeneltian menggunakan SBES yang sinyal akustiknya hanyadari nadir, ikan punya kecenderungan perilaku untukmenghindari SBES yang terpasang di kapal. Selain itu,MBES modern menyediakan data denga resolusi yang lebihtinggi dari SBES dimana resolusi vertikalnya adalah kurangdari 1% dari kedalaman (Colbo dkk. 2014). Maka dari itu,berbagai jenis data yang dapat dihasilkan dari MBES dapatdigunakan untuk meneliti ikan.

11Gambar 2.2 Area Sapuan MBES (Jong 2002 dalam Talifdan Khomsin 2017)Dengan adanya area cakupan MBES yang luas dalambentuk swath, data batimetri atau data kedalaman MBESdigunakan untuk membuat digital elevation model (DEM)dari dasar laut untuk menentukan bentuk dasar lautnyasebagaimana ditunjukkan pada Gambar 2.3. Untukmengembangkan aplikasi yang sudah ada, mulai jugadikembangkan penggunaan informasi backscatter darisinyal MBES. Backscatter pada sinyal MBESpenggunaannya mirip dengan SSS, yaitu dapat digunakanuntuk menginterpretasi jenis, kekerasan, dan tekstursedimen dasar laut (Colbo dkk 2014). Hal ini berguna untukpenyempitan area eksplorasi gas dasar laut (Ostrovsky2008), studi geologi dasar laut, dan penentuan habitat ikan(Brown dan Blondel 2009). Selain itu, ada juga sinyal balikakustik dari kolom air yang mendanakan adanya objek dikolom air. Informasi ini dapat dimanfaatkan untukmendeteksi ikan-ikan, baik ikan pelagis maupun ikandemersal (Manik 2009). Adapun aplikasi lainnya adalahmengetahui persebaran dan konsentrasi zooplankton di

12kolom air yang menjadi makanan berbagai jenis ikan,sehingga secara tidak langsung bisa dikatakan sebagai areahabitat ikan. Namun, pada umumnya, penggunaan datakolom air untuk perikanan adalah utuk menentukan danmengevaluasi populasi ikan secara akurat dan mempelajariperilaku ikan.Gambar 2.3 Data Batimetri (Talif dan Khomsin 2017).Pada gambar ini, semakin gelap warna biru menandakansemakin dalamnya laut di daerah tersebut.

132.4.Gambar 2.4 Kumpulan Ikan dideteksi Menggunakan DataKolom Air (Colbo dkk. 20

habitat ikan. Habitat ikan ini selanjutnya dapat digunakan sebagai daerah penangkapan ikan. Pada penelitian kali ini, habitat ikan demersal dicari berdasarkan preferensi ikan demersal. Adapaun jenis-jenis ikan demersal yang dicari habitatnya adalah ikan Petek, Beloso, Peperek